Ayla berdiri dengan sisa kekuatan yang ia miliki, mengabaikan rasa perih di lututnya yang bergesekan dengan rumput kasar. Dunia di sekitarnya terasa seolah runtuh, menyisakan puing-peting harga diri yang hancur berkeping-keping.Tatapan Luxy yang tadi jenaka kini berubah menjadi tatapan iba, sebuah ekspresi yang justru semakin membuat Ayla merasa kecil dan tak berarti.“Luxy, bawa aku pergi dari sini,” tuntut Ayla, suaranya bergetar namun mengandung ketegasan yang mutlak. “Antarkan aku pulang. Ke mana saja, asalkan bukan ke tempat ini, dan bukan bersama pria itu.”Luxy, yang semula masih bersandar santai pada air mancur batu, mendadak menegakkan tubuhnya. Binar nakal di matanya padam seketika, digantikan oleh kilatan horor yang murni. Ia melangkah mundur satu langkah, tangannya terangkat seolah-olah sedang menghalau sesuatu yang sangat berbahaya.“Mengantarmu? Sekarang?” Luxy tertawa kecil, namun nadanya terdengar sumbang dan penuh kepanikan. “Kau pasti bercanda, Cantik. Aku memang su
Read more