Hujan di luar tidak lagi terdengar seperti air yang jatuh ke bumi, melainkan seperti tabuhan genderang perang yang memacu adrenalin di dalam pembuluh darah.Di dalam kamar yang remang itu, batas antara benci dan cinta, antara manusia dan insting, telah lebur menjadi satu. Ayla, yang biasanya pasif dan terintimidasi, kini menjadi api yang membakar sisa-sisa ketenangan Xavier.Jemari Ayla menyentuh kulit dada Xavier yang panas, merasakan otot-otot suaminya yang mengeras seperti baja di bawah kulit yang halus. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma musk yang kini bercampur dengan aroma wiski, membuat kepalanya semakin berputar hebat.“Kau selalu mengendalikan semuanya, Xavier,” bisik Ayla tepat di depan bibir pria itu, suaranya mengandung tantangan yang berbahaya. “Kontrak, klan, hidupku... bahkan tubuhku. Tapi malam ini, aku yang memegang kendali.”Xavier menggeram rendah, sebuah suara yang berasal dari bagian terdalam tenggorokannya. Cengkeramannya pada pinggang Ayla menguat, hampir m
Read more