Lantai empat puluh gedung Devonshire Corp terasa seperti zona perang yang dingin. Sejak fajar menyingsing, atmosfer di departemen eksekutif begitu mencekam hingga para staf memilih untuk berjalan berjinjit, seolah lantai marmer itu terbuat dari ranjau darat yang siap meledak.Tidak ada aroma kopi yang biasanya menenangkan; hanya ada bau tajam dari ozon dan kemarahan murni yang merembes dari balik pintu ganda ruang kerja sang CEO.Xavier Alexander duduk di balik meja kerja raksasanya, namun ia tidak tampak seperti pengusaha sukses yang biasanya.Matanya yang merah karena kurang tidur terus berpendar emas, redup namun berbahaya, seperti bara api yang tertiup angin. Urat-urat di lehernya menonjol, dan napasnya terdengar seperti geraman rendah yang tertahan di balik katup tenggorokan.“Keluar,” desis Xavier, suaranya terdengar serak, hampir tidak menyerupai suara manusia.Di hadapannya, seorang manajer senior gemetar hebat sambil memegang map laporan keuangan. “Tapi Tuan, ini hanya keterl
Read more