Bab 42 Sesaat, suasana menjadi hening. Tidak ada yang bicara. Hanya suara napas keduanya yang terdengar di tengah kamar yang kedap suara itu. Keheningan yang mendadak terasa berat, seolah ada beban masa lalu yang merangkak naik ke permukaan."Kalau sudah ada Thalia, berarti... jangan ingat Yulia lagi," ucap Gandira tiba-tiba. Suaranya kini lebih berat, penuh penekanan yang serius.Amar menunduk, sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum getir yang menyedihkan. Nama itu, Yulia, seolah menjadi hantu yang belum benar-benar pergi dari hidupnya."Kamu bisa bahagiakan Thalia untuk menebus rasa bersalahmu," lanjut Gandira lembut. "Sudahlah, Kek, jangan bahas itu." Amar mengalihkan topik, enggan membahas soal Yulia lebih jauh dia pun memilih pamit. ***"Sepertinya kamu tidur nyenyak semalam--" Anna mendatangi kamar Thalia, dia berdiri sambil bersedekap melihat Thalia yang duduk di kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. "Lumayan, bagaimana dengan Kak Anna? Menikmati pesta sampai
Last Updated : 2026-05-01 Read more