LOGIN"Kasihan sekali Anara," Erik kembali memanaskan suasana. "Pasti dia sudah melewati masa-masa yang sangat sulit selama ini, diabaikan oleh ayah kandungnya sendiri."Henry dan Mia tampak gelagapan. Mereka kehilangan kata-kata, tidak tahu lagi harus membangun benteng pertahanan seperti apa."Astaga, Pak Henry... Mia... kalian benar-benar keterlaluan," satu per satu tamu mulai melontarkan pendapat secara terbuka. "Pantas saja berita itu meledak di internet. Ternyata begini kenyatannya? Anara, putri kandung yang justru disia-siakan."Mia mengepalkan tinjunya kuat-kuat. "Anara, kamu sengaja, kan? Kamu ingin semua orang memojokkanku?" Mia balik mencibir, tidak sudi terus-menerus ditekan. "Kamu hanya iri! Sejak awal, akulah bintang di sini! Sementara kamu--"Mia melangkah maju, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Kamu hanya pengasuh di sini! Kamu dibayar hanya untuk menjadi babysitter bocah itu!"Hinaan itu membuat suasana riuh seketika. Mia tanpa segan menyentuh gaun yang dike
Ekspresi Thalia yang mendadak gugup justru membuat senyum mengejek di bibir Amar semakin lebar. Ia menikmati rona merah yang menjalar di pipi istrinya, sebuah reaksi yang tak bisa disembunyikan meski Thalia berusaha tampil ketus. "Apa setiap hal yang ingin kulakukan padamu harus kujelaskan secara detail, Thalia? Itu terlalu membuang waktu," bisik Amar rendah. Dari saku celananya, Amar mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna gelap. Aroma rempah yang kuat dan menenangkan seketika menyeruak di antara mereka. "A-apa itu?" tanya Thalia dengan nada waspada, matanya melirik botol itu lalu beralih ke wajah Amar. "Minyak herbal, ramuan khas keluargaku. Katanya cukup berkhasiat untuk melancarkan aliran darah. Aku ingin mencobanya sekarang," jawab Amar santai. "Untuk apa!" Thalia tersentak, suaranya naik satu oktaf saat tangan kokoh Amar tanpa permisi memegang pahanya, bersiap menyingkap sedikit kain gaunnya untuk mencapai bagian kaki. Amar tersenyum miring, menatap Tha
Amar melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Setelan jas yang membungkus tubuh tegapnya semakin mempertegas kesan dingin yang justru membuat para wanita di pesta itu tak bisa melepaskan pandangan. Bagi mereka, Amar adalah sosok lelaki cool yang mustahil untuk digapai.Langkah kaki Amar terhenti tepat di hadapan Tria dan Thalia. Suasana mendadak berubah tegang saat sepasang mata tajam itu mengunci keberadaan sang dokter di samping istrinya."Pak Amar," sapa Tria dengan senyum ramah yang profesional. Ia mengulurkan tangan dengan sopan. "Baru tiba?"Amar hanya membalas dengan anggukan singkat, tangannya menjabat Tria dengan tekanan yang tegas. Matanya beralih, melirik noda merah yang mengotori gaun putih Thalia."Ah ya, tadi ada insiden kecil. Gaun Thalia terkena tumpahan jus, jadi--""Oh." Tanpa membiarkan Tria menyelesaikan kalimatnya, Amar bergerak cepat. Dengan gerakan posesif, ia menarik jas milik Tria dari pundak Thalia dan menyampirkan jas miliknya sendiri untuk membung
Beberapa orang yang mendengar ucapan Lesha mulai tertawa kecil, saling melempar lirikan penuh penghinaan. Tisha, sang ibu tiri, ikut menyunggingkan senyum meremehkan. Di samping Thalia, Anna diam-diam menarik sudut bibirnya, menikmati pemandangan itu sebelum akhirnya memasang wajah prihatin. "Tante, tolong jangan begitu. Bagaimanapun, Thalia sudah sangat berbaik hati membantu kami," ucap Anna, seolah sedang membela. Ia mengusap pundak Thalia dengan lembut, namun sentuhan itu justru terasa seperti duri bagi Thalia. Di bawah meja, jemari Thalia meremas pegangan kursi rodanya hingga memutih. Dalam hati, ia tertawa getir. Jadi seperti ini cara wanita-wanita berkelas ini menghabiskan waktu? Memandang rendah orang lain hanya karena tidak memiliki kuasa atau harta? Mirisnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mencela Anna. Padahal, secara norma, seorang istri yang enggan hamil dan memilih menyewa rahim biasanya akan dipandang miring. Namun di keluarga Amar, aturan itu seolah tidak be
"Non Thalia...""Iya, Mbak?" sahut Thalia pada Rubi yang tengah mendorong kursi rodanya dengan perlahan keluar dari area lobi rumah sakit menuju area parkir.Rubi tersenyum sungkan, seolah baru saja tersadar dari lamunannya. "Ah, tidak apa-apa, Non--""Mbak mau bilang apa? Tadi wajahnya sepertinya serius sekali," goda Thalia sambil melirik ke belakang."Itu... Dokter Tria tadi ganteng banget ya, Non? Sudah tampan, baik lagi. Suaranya itu lho, soft spoken banget. Non Thalia pasti sempat berdebar ya waktu diperiksa tadi?" canda Rubi dengan kedipan mata yang membuat Thalia spontan terkekeh."Mbak Rubi ada-ada saja. Kenapa? Mbak jadi naksir, nih?"Rubi ikut tertawa kecil, pipinya sedikit merona. "Aduh, cuma kagum saja, Non. Andai saya masih muda dan belum punya suami, mungkin saya sudah minta nomor antrean paling depan untuk jadi pasiennya setiap hari!"Thalia hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar gurauan Rubi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapa
***Thalia tersenyum kecil menatap layar ponselnya. Biasanya, ia dan Satria Merah hanya saling berbalas pesan melalui direct message di media sosial. Namun kali ini, pria itu tampak lebih berani dengan meminta nomor ponsel pribadinya.Tanpa banyak pertimbangan, Thalia memberikannya. Niatnya sederhana, ia hanya butuh hiburan. Belakangan ini ia tidak terlalu aktif di media sosial dan merasa butuh teman mengobrol yang lebih privat melalui Whats@pp untuk mengalihkan pikirannya.[Kita mungkin tidak akan pernah bertemu, tapi setidaknya punya teman chatting sepertimu sudah cukup seru,] tulis Thalia.[Oke, tidak apa-apa. Biarkan takdir saja yang nanti bekerja untuk mempertemukan kita. Haha,] balas Satria Merah di seberang sana.Percakapan mereka tidak pernah sekadar basa-basi kosong. Keduanya memiliki minat yang sama besar dalam dunia literasi. Karena sama-sama hobi membaca, obrolan mereka selalu mengalir lancar, terutama saat mulai membedah isi buku atau sekadar berbagi referensi bacaan
Amar berdiri dengan tenang, merapikan kemejanya tanpa menatap Anna. "Bukankah itu yang ingin kamu dengar untuk konsumsi publik, Anna? Bahwa adikmu dan anakmu dijaga dengan baik? Aku hanya melakukan peranku sebagai suami yang sempurna di depan kamera." Amar kemudian berbalik pada Thalia, membungku
Braaak!Suara benturan terdengar keras, bergema di antara pepohonan. Thalia memejamkan mata rapat-rapat, mencengkeram erat sandaran tangannya, menunggu rasa sakit yang akan menghantam tubuhnya. Namun, rasa sakit itu tak pernah datang.Ia hanya merasakan sentakan hebat yang hampir membuatnya terp
*** "Ibu, apa aku boleh ikut?" pinta Thalia, matanya menatap penuh harap pada Citra yang sedang bersiap-siap menuju ladang. Citra menghentikan gerakannya sejenak, menatap menantunya dengan lembut. "Boleh saja, Thalia. Tapi di sana mungkin terik, Ibu khawatir kamu tidak nyaman." "Tidak apa-apa,
Anna berdiri mematung di tengah ruang tamu yang sepi, merasakan dadanya sesak oleh sesuatu yang ia sendiri sulit definisikan. Apakah ini murni cemburu karena Amar memilih wanita lain, atau sekadar ego seorang diva yang terluka karena miliknya merasa dicuri? Kabar dari pembantunya bahwa Amar membaw







