*** "Ibu, apa aku boleh ikut?" pinta Thalia, matanya menatap penuh harap pada Citra yang sedang bersiap-siap menuju ladang. Citra menghentikan gerakannya sejenak, menatap menantunya dengan lembut. "Boleh saja, Thalia. Tapi di sana mungkin terik, Ibu khawatir kamu tidak nyaman." "Tidak apa-apa, Bu, aku sudah pakai topi!" sahut Thalia cepat, jemarinya menyentuh pinggiran topi lebar yang melingkari kepalanya. Pagi tadi, ia menemukan setelan baju santai berbahan sejuk di kamarnya, mungkin Amar yang menyiapkannya diam-diam. "Apa aku boleh ajak Pak Jamal? Dia mungkin bisa bantu mendorong kursi rodaku," lanjut Thalia ragu. Citra tersenyum teduh sembari menggeleng pelan. "Tidak perlu, Sayang. Biar Ibu saja. Kita akan lewat jalan aspal yang halus, tidak akan melelahkan." Dengan gerakan telaten, Citra mulai mendorong kursi roda itu keluar rumah. Tujuan mereka adalah ladang milik Hamdan, hamparan tanah subur yang didominasi tanaman kentang dan petak-petak sayuran hijau. Meski matahari
Read more