Joana tertegun, lalu mengangguk pelan. “Iya.”Bukannya wajar Joana pulang temui suaminya, selama dia belum cerai? Tapi, kenapa pria ini terlihat begitu marah?“Nggak boleh pulang!” Surya gertakkan giginya, kasih perintah.Alis Joana berkerut. Dia nggak suka urusannya diatur seenaknya.Hubungan mereka saja belum jelas, kenapa Surya sudah bertindak seolah dia berhak kendalikan segalanya? Lagian, kalau dia nggak temui Fajar, gimana Joana bisa bicarakan perceraian?“Memangnya kalau kamu ngelarang, aku harus nurut?” gumam Joana pelan dengan kesal.“Kamu juga bukan siapa-siapaku. Ngapain ikut campur!”Surya cubit pinggangnya dengan kuat. Tatapannya tajam menusuk.“Kamu bilang apa?”Joana balas dengan nada tak kalah kesal, “Emang kamu berhak atur aku? Aku loh belum setuju—mmh …!”Kalimatnya terputus. Tiba-tiba, Surya menunduk dan gigit leher indahnya.“Ah!”Joana tahan suaranya, tangannya cengkeram tepi meja rapat dengan kuat.“Kamu gila, yah?”Setelah rasa sakitnya mereda, Joana dorong pria
Read more