Aroma antiseptik yang khas perlahan membawa kesadaran Sofia kembali. Kelopak matanya terasa sangat berat saat terbuka, namun hal pertama yang tertangkap oleh penglihatannya adalah sosok Riga.Suaminya itu duduk terduduk di kursi samping brankar rumah sakit dengan bahu yang merosot layu. Kedua tangan Riga menggenggam erat tangan Sofia, menempelkannya pada bibirnya yang terkatup rapat seolah sedang merapalkan doa tanpa putus.“Riga...” panggil Sofia, suaranya sangat lirih dan serak.Riga tersentak. Ia langsung mendongak, menatap Sofia dengan mata yang merah dan berkaca-kaca. Genggaman tangannya mengencang, menyalurkan rasa lega yang luar biasa.“Sofia... kamu sudah sadar?” bisik Riga, suaranya parau.Sofia mencoba mengulas senyum tipis, meski tubuhnya masih terasa sangat lemas. “Maaf ya, Ga... aku selalu merepotkanmu.”Riga menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Jangan pernah bicara begitu. Kamu tidak pernah merepotkanku. Ini sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu.”Sofia menger
Ler mais