Sementara itu, kontras dengan ketegangan yang terjadi di kantin bawah, suasana hangat justru menyelimuti ruang perawatan Sofia.Cahaya pagi yang lembut membuat ruangan itu terasa begitu nyaman dan tenang.Riga sudah duduk di kursi samping brankar, memegang mangkuk bubur ayam rumah sakit yang masih hangat. Dengan penuh perhatian, ia meniup sesendok bubur dan mengarahkannya ke mulut Sofia.“Ayo, buka mulutmu. Sedikit saja,” bujuk Riga lembut.Sofia tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan sambil mendorong pelan tangan Riga.“Aku bisa makan sendiri, Ga. Aku ini tidak sakit, aku hanya butuh istirahat sebentar saja. Jangan memperlakukan aku seperti orang yang tidak berdaya.”Mendengar penolakan istrinya, Riga tidak menyerah. Pria itu justru membawa sendok tersebut ke mulutnya sendiri, mencicipi bubur hambar khas rumah sakit itu, lalu mengernyitkan dahinya.“Rasanya benar-benar hambar,” ucap Riga sambil meletakkan kembali sendok itu ke dalam mangkuk. Ia lalu menatap Sofia denga
Read more