Maya mematung di sudut ruangan, matanya berkaca-kaca menyaksikan pemandangan yang selama lima tahun ini hanya ada dalam mimpinya.Leo, yang biasanya tampak layu, kini terlihat memiliki binar kehidupan saat bercengkerama dengan sosok yang kini ia panggil ‘Ayah’.Meski gerakan tangannya tampak kaku dan canggung, Justin tetap telaten menyuapi Leo sesendok demi sesendok bubur ayam halus, makanan favorit yang selalu diminta Leo setiap kali ia merasa sedikit lebih baik.Pria itu duduk kaku di pinggir ranjang, memegang sendok dengan kaku, karena memang tidak terbiasa meyuapi anak kecil.“Sedikit lagi, jagoan,” bisik Justin, menyuapkan bubur ayam halus, satu-satunya makanan yang masih bisa diterima perut Leo yang ringkih.Leo menelan suapan itu dengan susah payah, lalu tersenyum pucat.“Enak, Yah...”Dada Maya terasa diremas. ‘Yah’ sebutan itu seharusnya menjadi melodi terindah, namun baginya, itu terdengar seperti lonceng kematian yang diredam.Maya tahu kebenaran di balik ketelatenan Justin
Mehr lesen