Bara tertegun melihat reaksi Riga, sementara Sofia mengangkat wajahnya dengan tatapan ngeri. Riga seolah baru menyadari satu hal, Justin bukan sekadar pengganggu, dia adalah sutradara dari setiap tragedi yang menghancurkan hidupnya.Tanpa banyak bicara, Riga langsung bangkit dari duduknya. Dengan langkah lebar bergegas meninggalkan kafe.“Riga! Tunggu!”Suara Sofia melengking, sangat kentara penuh kecemasan. Tapi, Riga tidak menoleh. Jika ia melihat wajah istrinya sekarang, ia takut pertahanannya runtuh, atau lebih buruk lagiRiga memilih mengabaikan panggilan Sofia, dan tidak mempedulikan istrinya yang kepayahan mengikutinya.“Kamu mau kemana?”Tak ada jawaban, Riga sudah memasuki mobilnya, meninggalkan Sofia bersama Bara. Suara teriakan Sofia tertelan deru mesin mobil Riga yang meraung keras. Sofia berusaha mengejar, namun langkah lebarnya tak mampu menandingi kemarahan yang sudah membutakan suaminya. Riga menginjak pedal gas hingga ban mobil berdecit di atas aspal, meninggalkan
อ่านเพิ่มเติม