Di sebuah lounge privat yang remang-remang, aroma alkohol yang tajam menusuk udara. Riga duduk di sana dengan kemeja yang sudah berantakan, dasinya entah ke mana. Di tangannya, sebuah gelas berisi cairan yang terus terisi kembali. “Dia tidak mau anakku, Denis! Bayangkan... dia membunuh harapan kami setiap malam dengan pil-pil sialan itu!” Riga meracau, suaranya parau oleh rasa sakit yang memuncak. “Aku mencintainya lebih dari hidupku, tapi baginya... aku hanyalah pria pemuas nafsu.” Denis, yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah cemas, mencoba meraih botol dari tangan bosnya. “Cukup, Tuan. Jangan terlalu banyak minum. Besok pagi Anda harus meeting dengan klien.” “Apa gunanya kamu, aku gaji besar?” Denis terdiam, tak berani melawan. Dia sadar tidak bisa menangani ini sendirian. Tanpa berpikir panjang ia merogoh ponselnya dan menghubungi Gerry. Seolah Gerry adalah sosok yang akan selalu siap atas setiap panggilan, tak butuh waktu lama, pintu lounge terbuka kasar. Gerr
อ่านเพิ่มเติม