Begitu kesadarannya pulih, Roselina menyadari satu hal: Jika aku benar-benar diikat 24 jam bersamanya seperti ini, aku tidak akan pernah bisa menerjemahkan gulungan The Sanctuary! Aku harus mengambil jarak! Dengan ekspresi sedatar tembok istana, Roselina menyingkirkan jubah hangat itu, bangkit berdiri, dan merapikan gaunnya. Ia berjalan menuju mejanya, mengambil sebuah perkamen kosong, dan mulai menulis dengan cepat. Kaelan mengerutkan kening. Mengapa gadis ini tidak menyinggung soal jubah itu sama sekali? Semenit kemudian, Roselina melangkah mendekati meja Kaelan. Ia menyodorkan perkamen yang baru saja ia tulis dengan kedua tangannya. Wajahnya sangat profesional. "Apa ini?" suara Kaelan merendah, melirik kertas tersebut. "Surat Permohonan Pemisahan Jadwal, Yang Mulia," jawab Roselina lugas. Alis Kaelan menukik tajam. "Pemisahan?" "Benar, Yang Mulia," Roselina memaparkan argumennya dengan sangat lancar dan masuk akal. "Setelah saya tertidur semalam, saya menyadari bahwa
Read more