"Untuk topeng yang takkan pernah retak," balas Sally dalam hati, lalu meminum cairannya yang terasa pahit—sepahit kenyataan bahwa satu jam menjadi manusia telah habis, dan kini ia kembali menjadi patung indah di tengah simfoni yang palsu.Mobil sedan itu terus melaju tenang, namun atmosfer di dalamnya terasa berat oleh kata-kata yang sengaja digantung.Andrew menyandarkan punggung, menyesap sisa aroma cerutu dari jasnya, lalu menoleh ke arah Sally dengan tatapan yang seolah-olah hanya ingin berbincang santai."Tadi aku sempat mengobrol sebentar dengan Maya di sela pesta," Andrew memulai, suaranya tenang, nyaris seperti bisikan. "Dia terlihat sangat bersinar malam ini. Kafenya, ambisinya... semuanya tampak sempurna."Sally hanya menatap lampu-lampu kota yang melesat di balik kaca, mencoba tetap tenang meski dadanya sesak. "Dia memang pantas mendapatkannya. Maya selalu tahu apa yang dia inginkan.""Termasuk soal Vino?" Andrew memotong cepat, nadanya mengandung rasa ingin tahu yang dibua
Read more