"Aku membenci kesabaran Andrew. Karena dengan sabarnya, ia membuatku terlihat seperti penjahat. Dan dengan sabarnya pula, ia membuatmu merasa tercekik oleh kebaikan yang tak sanggup kau balas." Suara Vino parau.Vino akhirnya memasukkan ponselnya ke saku jaket. Ia memutuskan untuk berhenti, bukan karena ia tak lagi peduli, tapi karena ia sadar bahwa mencintai Sally saat ini berarti harus membiarkannya belajar mencintai orang lain."Malam ini, biarlah sinyalku mati di udara," batin Vino pedih. "Jika rindu ini adalah suara, ia akan menjadi gema yang memantul di dinding-dinding hatimu tanpa perlu kau angkat. Tidurlah, Sal. Biarkan Andrew menjadi selimutmu, meski aku tahu, dalam mimpimu, kaulah yang menjadi rumah bagiku."Vino melepaskan genggamannya dari pagar balkon yang dingin. Ia menatap telapak tangannya, merasa asing dengan dirinya sendiri. Vino membalikkan badan, masuk ke dalam kamarnya yang sunyi, meninggalkan separuh jiwanya tertinggal di balkon, terbang bersama angin menuju jend
Read more