Di dalam kafe yang mulai dipenuhi aroma biji kopi yang baru digiling, udara terasa mencekik bagi Vino, meski Maya terus menebar senyum sehangat musim semi."Mengapa udara pagi ini rasanya seperti debu yang menyesakkan, May? Aku melangkah maju, tapi kakiku terasa masih tertinggal di gerimis semalam." Vino berbisik pada diri sendiri, matanya kosong menatap kepulan uap kopi."Itu karena kamu masih memelihara bayang-bayang, Vin. Bayangan tidak akan pernah memberimu kehangatan. Biarkan fajar ini menghapus sisa-sisa yang tak layak dibawa pulang." Maya meletakkan cangkirnya dengan pelan, suaranya lembut namun tajam.Sally menatap layar ponselnya yang berpijar di tengah temaram kamar. Jemarinya melayang di atas papan ketik virtual, ragu antara membiarkan semuanya tetap menjadi misteri atau menuntut sebuah kejujuran yang mungkin akan menghancurkannya.Setelah menarik napas panjang, ia mengetik baris kalimat yang sangat sederhana, namun terasa seberat batu gunung baginya."Vin, kamu lagi di man
続きを読む