"Kamu terlambat, Vin. Sangat terlambat," bisik Sally. "Pagi tadi, saat aku butuh balasanmu, kamu nggak ada. Tapi Andrew datang membawa bunga lili tanpa aku minta. Dia membawa kepastian, sementara kamu? Kamu cuma bawa alasan.""Sal, aku cuma butuh waktu sedikit lagi—""Waktumu sudah habis!" Sally memotong, suaranya naik satu nada. "Kamu bilang kamu nggak mau aku benci kamu? Lucu, Vin. Karena yang paling aku benci sekarang bukan kamu, tapi diriku sendiri yang masih saja mau membukakan pintu untukmu."Vino terdiam, wajahnya membeku tertampar kata-kata Sally."Pergilah, Vin. Tolong. Jangan biarkan sisa rasa hormatku untuk masa lalu kita hilang karena kamu terus-menerus jadi hantu di saat aku ingin hidup."Sally perlahan menutup pintu, menyisakan Vino yang berdiri terpaku di bawah gerimis yang kian deras. Di balik pintu yang tertutup, Sally merosot jatuh ke lantai.Ia memeluk lututnya, menangis tanpa suara. Di satu sisi, ia merasa menang karena mampu mengusir Vino, namun di sisi lain, hati
Read more