Setiap lapisan kulit bawang yang dikupas Sally seolah mewakili dinding pertahanan dirinya yang perlahan runtuh. Bau tajam bawang mulai menusuk mata, atau mungkin itu hanya alasan bagi air mata yang sudah mendesak ingin keluar."Tante, ini bumbunya sudah harum, ya?" tanya Maya sambil mengaduk isi wajan dengan gerakan yang luwes, persis seperti yang dipuji Mama tadi.Mama Sally mendekat, menghirup aroma masakan dengan wajah berseri. "Wah, pas sekali aromanya! Memang beda ya kalau tangan yang sudah biasa masak yang pegang sudip. Sally, lihat itu, motong bawangnya yang rapi dong, jangan asal-asalan begitu."Sally terdiam, namun genggamannya pada pisau kecil itu semakin erat. "Iya, Ma," jawabnya singkat, nyaris berupa bisikan.Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat ke arah dapur. Itu Vino."Wah, ramai sekali di sini. Masak apa sampai harumnya tercium sampai depan?" tanya Vino sambil tersenyum ramah, matanya bergantian menatap Mama Sally dan Maya.Mama menyambutnya dengan antusias. "Ini
Read more