Lampu kota yang ditatap Vino dari jendela apartemennya adalah lampu yang sama yang mengiringi perjalanan taksi Sally menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan. Namun, bagi Sally, cahaya-cahaya itu tampak kabur, terbiaskan oleh lapisan air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya. Di dalam kesunyian taksi, ia menyentuh bibirnya berkali-kali dengan jemari yang gemetar, seolah mencoba menghapus jejak panas dan sisa tekanan yang ditinggalkan Vino. Ia ingin sekali membenci Vino, menyalahkan pria itu atas impulsivitas yang gila. Tapi jauh di lubuk hatinya, Sally lebih membenci dirinya sendiri karena sebuah kenyataan pahit, ia tidak mampu menolak dengan cukup keras. Ada bagian dari dirinya yang justru terpaku, seolah jiwanya sedang mengkhianati komitmen yang selama ini ia agungkan. Namun, lamunan gelap itu pecah seketika saat taksinya berbelok memasuki pekarangan rumah. Dunianya yang baru saja jungkir balik dipaksa tegak kembali oleh sebuah realitas yang dingin. Di sana,
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-02 Mehr lesen