"Lakukan yang terbaik, Dok. Kami serahkan semuanya pada tim medis," ucap Rian tenang, meski matanya terpaku pada ponsel di tangan Sally yang bergetar hebat. Sebuah notifikasi dari "Mama" muncul. Wajah Sally pias, dunianya runtuh dalam satu baris kalimat."Kasih ponselnya ke Abang," perintah Rian rendah namun tak terbantahkan."Bang... Andrew... dia bilang ke Mama kalau...""Cukup. Jangan dibaca lagi." Rian merebut ponsel itu, mematikannya, dan menyembunyikannya di saku jaket. Ia mencengkeram bahu Sally, memaksanya tegak. "Fokus kita cuma satu, yaitu Vino. Andrew cuma sedang emosi. Jangan biarkan pesan itu menghancurkanmu malam ini."Sally terisak, menyandarkan dahi di dada Rian. Di balik punggung adiknya, Rian mengintip layar ponsel itu. Pesan dari Ibu mereka yang meneruskan amarah Andrew terbaca jelas: “Dia bilang kamu sudah memilih jalanmu sendiri. Pernikahan batal!”Rahang Rian mengeras. Ia sedang bertarung di dua front: nyawa sahabatnya di balik pintu operasi, dan masa depan
Read more