Ayo, Vin masuk ke dalam” Rian mengajak Vino berpindah ke ruang tamu. Rian duduk di sofa tunggal, matanya menatap kosong ke arah foto masa kecil mereka yang terpajang di dinding ruang tamu. Di sana ada dia, Sally, dan Vino yang sedang tertawa lebar dengan seragam sekolah yang kotor karena tanah. Langkah kaki terdengar mendekat. Vino berdiri di ambang pintu, tampak ragu untuk masuk. Bahunya masih merosot, persis seperti saat Rian melihatnya di bawah pohon beringin tadi. “Ingat waktu kita bolos latihan basket cuma buat beli es krim di depan SD Sally? Aku yang kena marah Mama di anggap nggak bisa jagain kalian berdua.” Rian tanpa menoleh, suaranya rendah namun tenang. “Ingat, Bang. Abang selalu pasang badan buat aku sama Sally.” Vino melangkah masuk perlahan, suaranya bergetar. “Dulu aku bangga jagain kamu, Vin. Karena aku pikir, kita ini keluarga. Tapi pesan yang kamu kirim tadi… itu bukan sekedar pesan dari seorang sahabat untuk adiknya sahabatnya. Sejak kapan, Vin? Sejak kapan
Read more