Matahari menolak bergerak.Seolah waktu sendiri merasa bersalah melihat apa yang baru saja terjadi.Angin berembus pelan melewati Hutan Lunaris, membawa aroma tanah yang lembap bercampur logam dari darah yang masih hangat. Pepohonan yang dahulu menjadi tempat para serigala muda bermain kini berdiri sunyi, menjadi saksi seseorang yang memilih mati karena kesetiaan.Elara masih memeluk Asterion.Tubuh itu mulai kehilangan kehangatan. Namun Elara tidak sanggup melepaskannya, jari-jarinya justru menggenggam semakin erat, seolah dengan begitu kematian akan berubah pikiran."Asterion..."Suaranya hampir tidak terdengar."Kau pernah bilang, kesetiaan bukan berarti selalu berada di samping seseorang. Tapi berada di dalam doa yang tidak pernah berhenti." Ia tersenyum. Senyum yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Kalau begitu...""...mengapa doaku tidak pernah cukup?"Tidak ada jawaban.Hanya angin. Dan tubuh yang tidak lagi mampu menjawab namanya, air mata jatuh satu demi satu.Tidak dera
Baca selengkapnya