Cahaya matahari yang semakin terik menembus jendela tinggi Aula Utama, menyirami singgasana kristal yang kini kembali menjadi saksi bisu kemelut gairah para penguasa Wilderheim.Malphas berdiri tegak dengan sayap perak yang setengah merentang, memberikan bayangan megah sekaligus mengintimidasi. Di sampingnya, Kaelen bersandar pada sandaran singgasana, menyeringai liar dengan tatapan yang seolah hendak menguliti Elara saat itu juga.Di hadapan mereka, Lucian, Vrax, dan Zhen berdiri bersedekap, mencoba menetralkan napas yang masih memburu. Namun, mata mereka tak bisa berbohong; gairah itu masih menyala terang.“Duduklah dan tonton baik-baik, kalian bertiga,” suara Malphas menggelegar, namun penuh nada posesif. “Kalian sudah mendapatkan bagian di taman tadi. Sekarang, biarkan kami menunjukkan bagaimana cara memuja Ratu ini dengan benar di singgasananya sendiri.”Kaelen tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar seperti geraman kucing besar. “Jangan berkedip, Saudara-saudaraku. Tontonan
อ่านเพิ่มเติม