Aula Utama masih menyisakan aroma debu mesiu dan darah yang menempel pada zirah para pengawal yang berdiri kaku di sepanjang pilar. Namun, perhatian semua orang di ruangan itu, termasuk para prajurit yang masih gemetar karena sisa adrenalin perang tertuju sepenuhnya pada wanita di atas singgasana.Elara menatap kelima suaminya yang berdiri di bawah undakan tangga, tubuh mereka kotor, terluka, dan bersimbah darah, namun di mata Elara, mereka adalah mahakarya keperkasaan yang paling indah.“Mendekatlah, para pahlawanku,” suara Elara mengalun lembut, memecah kesunyian aula.Lucian memimpin di depan, langkah porselennya berat karena kelelahan, diikuti oleh Vrax yang bahunya masih dibalut kain yang memerah, serta Malphas, Zhen, dan Kaelen.Begitu sampai di hadapan Elara, tanpa komando, kelima raja itu secara serempak menjatuhkan satu lutut mereka ke lantai marmer yang dingin. Gerakan itu begitu sinkron, sebuah pernyataan tunduk mutlak dari penguasa dunia kepada pusat semesta mereka.“Ratu-
อ่านเพิ่มเติม