Sinar mentari pagi yang cerah menerobos masuk melalui jendela-jendela besar Aula Utama, namun kehangatan fajar itu langsung tenggelam di balik kebisingan yang memekakkan telinga.Ruangan takhta yang biasanya sakral dan sunyi, kini berubah total menjadi arena sirkus yang kacau balau. Teriakan, tawa berat, dan hentakan kaki dari kelima penguasa Wilderheim menggema, saling bersahutan membelah langit-langit istana.“Ayo, Ignis! Jangan biarkan ekor bayangan si Nyx mendahuluimu! Kerahkan apimu untuk mendorong tubuhmu!” raung Lucian, Sang Raja Serigala, yang kini sedang bertiarap di atas lantai marmer dengan zirah setengah terbuka.“Kau curang, Lucian! Kau tidak bisa menyuruh anakmu memakai elemen api di karpet bulu ini!” protes Kaelen dengan sengit. Ia sedang berjongkok di ujung ruangan, menggerak-gerakkan jemarinya untuk memancing Nyx, sang bayi panther, agar merangkak lebih cepat. “Nyx, kemari, Nak! Lewati pangeran serigala payah itu!”Di sudut lain, Vrax tertawa terbahak-bahak hingga dad
อ่านเพิ่มเติม