"Mas Ardian udah berangkat, Bi?" tanya Melan ketika memasuki dapur.Bi Tin yang sedang merapikan meja makan pun terjingkat kaget mendegar suara muncul tiba-tiba. "Ya ampun ... Nyonya buat Bibi kaget aja." Wanita paruh baya itu sampai memegangi dadanya sendiri."Aduh, maaf, Bi. Aku kira Bi Tin tahu aku datang.""Gak apa-apa, Nyonya. Oh ya, Tuan udah berangkat pagi sekali. Katanya, sih, buru-buru sampai gak sempat sarapan.""Hem, pantes Bi Tin gak panggil aku buat sarapan," ucap Melan sembari duduk menghadap meja makan.Perempuan itu mengambil selembar roti yang kemudian diolesi selai kacang. Seperti inilah menu sarapannya setiap pagi. Saking banyaknya masalah hidup, Melan sampai bingung harus menikmati makanan seperti apa lagi selain roti selai itu. Beberapa kali Bi Tin sudah menawarkan menu baru, tapi ia tolak karena tak ada minat."Mas Ardian ada bilang gak, dia mau pulang jam berapa, Bi?"Lagi, gerakan tangan Bi Tin yang kini tengah mengelap vas bunga kembali terjeda karena pertany
Read more