Share

Chapter 26

last update publish date: 2026-04-21 17:12:28

"Koper ini mau langsung ditaruh di kamar, Mel?"

Melan yang baru saja meletakkan tas di atas sofa, segera menoleh pada Ferdi dan memberi gelengan. "Gak perlu, Fer. Biar di situ aja. Nanti aku yang bawa masuk ke kamar."

"Yakin?"

Tentu saja Melan mengangguk. Ia tidak mungkin membiarkan seorang laki-laki yang bukan suaminya masuk ke ruangan pribadi.

"Tapi ini lumayan berat, lho, Mel. Yakin kamu bisa?" Ferdi masih berusaha menawarkan bantuan, takut nantinya Melan kesulitan.

Perempuan dengan rambut
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 27

    Tangan Melan dengan cekatan memindahkan pakaian dari koper ke lemari. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini agar bisa mengurus hal lain. Asal tahu saja, masih banyak yang harus ia selesaikan secara diam-diam, tanpa seorang pun tahu.Di tengah kesibukannya menyusun pakaian, bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Sontak saja kening Melan mengerut bingung."Kenapa Ferdi balik lagi?" gumamnya. Laki-laki itu memang belum lama pergi dari apartemennya. Mungkin sekitar 15 menit.Sudahlah, Melan berdiri saja dan gegas keluar kamar. Ia berjalan santai menuju pintu utama, lalu membukanya tanpa rasa curiga."Hai!"Degh!Tubuh Melan membeku seketika melihat siapa yang kini berdiri di depannya. Bukan hanya terkejut, ia juga takut jika manusia iblis itu kembali berbuat nekat. Apalagi tidak ada siapa pun di sini yang bisa ia mintai pertolongan nanti. Melan masih terlalu baru dan belum tahu unit mana saja yang saat ini ada penghuninya."Kok kaget, sih?" Lila terkekeh. Ia sangat menikmati raut terkeju

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 26

    "Koper ini mau langsung ditaruh di kamar, Mel?" Melan yang baru saja meletakkan tas di atas sofa, segera menoleh pada Ferdi dan memberi gelengan. "Gak perlu, Fer. Biar di situ aja. Nanti aku yang bawa masuk ke kamar.""Yakin?"Tentu saja Melan mengangguk. Ia tidak mungkin membiarkan seorang laki-laki yang bukan suaminya masuk ke ruangan pribadi."Tapi ini lumayan berat, lho, Mel. Yakin kamu bisa?" Ferdi masih berusaha menawarkan bantuan, takut nantinya Melan kesulitan.Perempuan dengan rambut panjang yang digerai itu mengangguk yakin. "Itu ada rodanya. Aku tinggal tarik atau dorong aja."Spontan Ferdi menunduk, menatap bagian bawah koper yang dipegangnya. Entah apa yang tiba-tiba membuat ia lupa jika setiap koper memiliki roda. Sehingga tidak perlu diangkat ketika dipindahkan.'Dasar, bodoh!'Laki-laki itu pada akhirnya meletakkan koper tersebut di dekat pintu kamar, sedangkan ia memilih menjatuhkan bokongnya di atas sofa. Tak lama, Melan datang sembari membawa dua botol minuman sega

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 25

    Melan segera membuka aplikasi sosial media miliknya begitu tiba di kamar. Ia menelusuri informasi mengenai lowongan kerja yang sempat ia lihat sebelumnya. Dan ... dapat! Melan berhasil menemukan akun yang memposting informasi tersebut.Perempuan itu langsung mengunduh banner informasi agar bisa disimpan di galeri. Dengan begitu, ia akan mudah membaca kembali nanti.Sejenak Melan meluruskan tubuhnya di atas ranjang untuk mengusir lelah. Hari ini benar-benar terasa panjang dan menguras emosi. Namun, di satu sisi ia bangga pada dirinya sendiri karena sudah berani."Ingat, Mel! Meski kamu gak terlahir kaya seperti mereka, tapi kamu jauh lebih berharga dari mereka," gumamnya menyemangati diri sendiri.Mata perempuan berusia 35 tahun itu perlahan terpejam dan masuk ke alam mimpi.***Seperti yang sudah direncanakan kemarin, begitu hari berganti, Melan langsung bersiap untuk pindah ke apartemen barunya. Dua koper besar dan satu tas besar sudah menunggunya di lantai utama. Sementara, ia masih

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 24

    "Ada apa, Sus?" tanya Melan pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Ardan.Perempuan itu memaksakan diri datang ke rumah sakit meski rasanya sangat malas."Oh, ini ... pasien yang minta saya kirim pesan, Bu."Huft!Melan menghela napas kesal. Untuk apa Ardian menyuruhnya datang?"Oke. Terima kasih, Sus," katanya yang kemudian mendorong pintu ruang rawat sang suami.Begitu pintu terbuka, tampak Ardian yang tengah berbaring sembari memerhatikan layar ponsel, juga Lila yang duduk di kursi dekat laki-laki itu. Keduanya mengalihkan pandangan begitu Melan masuk."Ada apa?" tanya Melan dengan nada datar. Ia sedang malas basa-basi, apalagi ada Lila di sini.Sebelum Ardian sempat menjawab, Lila lebih dulu berdiri dan mendekat pada Mela. Tatapannya tampak tajam seperti sedang menahan kekesalan. "Apa maksudmu suruh Mas Ardian beli apartemen segala? Kamu gak lihat dia lagi sakit, Mel?!"Seketika kening Melan mengkerut. Kenapa jadi Lila yang marah? Padahal yang akan ia gunakan adal

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 23

    "Pasien hanya kelelahan. Cukup istirahat untuk beberapa hari, nanti akan pulih. Hanya saja tetap harus menjaga pola tidur dan jangan terlalu memikirkan hal berat setelah ini," ucap dokter yang baru selesai menangani Ardian.Melan mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah dokter tersebut keluar, matanya tertuju pada sang suami yang tengah tertidur karena efek dari obat.Huh, menyusahkan memang! Untung Ardian pingsan ketika di kantor, sehingga Melan bisa meminta bantuan dari staf yang ada di sana untuk mengangkat tubuh laki-laki itu. Jika tidak, maka ia pasti kesusahan sendiri.Melihat Ardian yang belum ada tanda-tanda akan bangun, gegas Melan berdiri. Malas sekali ia harus terus duduk menunggu laki-laki itu membuka matanya. Lebih baik ia pulang atau pergi ke tempat lain."Nyonya mau ke mana?" tanya Siska ketika melihat Melan keluar dari ruang rawat Ardian."Saya mau pulang. Tolong kamu tunggu Mas Ardian di sini, ya. Pekerjaanmu lagi senggang, kan?"Kalimat-kalimat itu begitu e

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 22

    "Karena percuma, Mel. Dokumen aslinya memang yang sekarang kamu pegang ini."Begitulah jawaban Ferdi ketika Melan mengajukan pertanyaan tadi. Jujur saja, sampai sekarang Melan masih merasa ada yang janggal. Namun, hanya akan membuang waktu saja jika terus dipikirkan. Lebih baik Melan segera ke ruangan Ardian.Ya, setelah merasa pertemuannya dengan Ferdi sudah cukup, Melan langsung bergegas ke kantor suaminya. Ia tidak ingin lagi menunda untuk mengeksekusi rencana yang sudah ada di kepala. Karena jika terus dibiarkan berlarut-larut, maka akan bahaya untuk dirinya.Bukan hanya soal Lila yang akan terus berusaha menyingkirkannya, tapi juga kedekatannya dengan Ardian. Melan akui, akhir-akhir ini sang suami memperlihatkan sikap yang berbeda, dan itu bisa menjadi penghalang niatnya untuk menggugat cerai. Maka, ia rasa pisah rumah adalah pilihan yang paling tepat."Selamat siang, Nyonya."Sapaan itu Melan dapatkan beberapa kali semenjak masuk ke gedung ini. Tentu semua staf di perusahaan ini

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status