Teilen

Chapter 22

last update Veröffentlichungsdatum: 17.04.2026 16:37:01

"Karena percuma, Mel. Dokumen aslinya memang yang sekarang kamu pegang ini."

Begitulah jawaban Ferdi ketika Melan mengajukan pertanyaan tadi. Jujur saja, sampai sekarang Melan masih merasa ada yang janggal. Namun, hanya akan membuang waktu saja jika terus dipikirkan. Lebih baik Melan segera ke ruangan Ardian.

Ya, setelah merasa pertemuannya dengan Ferdi sudah cukup, Melan langsung bergegas ke kantor suaminya. Ia tidak ingin lagi menunda untuk mengeksekusi rencana yang sudah ada di kepala. Karen
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Aurora Aurora
YAP BENER, POTONG AJA SEKALIAN PENISNYA ARDIAN UDAH DOYAN CELAP CELUP KE LILA, UDAH LAMA ZINA KUMPUL KEBO JUGA...!! KALO ARDIAN SAMA LILA ZINA SEBELUM JAUH ARDIAN NIKAH SAMA MELAN MASIH MENDING LAH JADI MASA LALU KELAM, INI PAS SAAT MELAN JUGA UDAH JADI ISTRINYA, MASIH AJA ZINA SAMA SI PECUN LILA
goodnovel comment avatar
Dinie Youli
jgn bkin playing victim author kl bikin ardian sakit biar yg baca kasian..ga sama sekali mati malah bagus tu ardian dan jgn sampe melan sok baik dan kasian ntar jijik aku ma melan...masalahnya dari pertama authornya dah bkin ardian spt iblis jadi mo mati jg ga bisa kasian
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 25

    Melan segera membuka aplikasi sosial media miliknya begitu tiba di kamar. Ia menelusuri informasi mengenai lowongan kerja yang sempat ia lihat sebelumnya. Dan ... dapat! Melan berhasil menemukan akun yang memposting informasi tersebut.Perempuan itu langsung mengunduh banner informasi agar bisa disimpan di galeri. Dengan begitu, ia akan mudah membaca kembali nanti.Sejenak Melan meluruskan tubuhnya di atas ranjang untuk mengusir lelah. Hari ini benar-benar terasa panjang dan menguras emosi. Namun, di satu sisi ia bangga pada dirinya sendiri karena sudah berani."Ingat, Mel! Meski kamu gak terlahir kaya seperti mereka, tapi kamu jauh lebih berharga dari mereka," gumamnya menyemangati diri sendiri.Mata perempuan berusia 35 tahun itu perlahan terpejam dan masuk ke alam mimpi.***Seperti yang sudah direncanakan kemarin, begitu hari berganti, Melan langsung bersiap untuk pindah ke apartemen barunya. Dua koper besar dan satu tas besar sudah menunggunya di lantai utama. Sementara, ia masih

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 24

    "Ada apa, Sus?" tanya Melan pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Ardan.Perempuan itu memaksakan diri datang ke rumah sakit meski rasanya sangat malas."Oh, ini ... pasien yang minta saya kirim pesan, Bu."Huft!Melan menghela napas kesal. Untuk apa Ardian menyuruhnya datang?"Oke. Terima kasih, Sus," katanya yang kemudian mendorong pintu ruang rawat sang suami.Begitu pintu terbuka, tampak Ardian yang tengah berbaring sembari memerhatikan layar ponsel, juga Lila yang duduk di kursi dekat laki-laki itu. Keduanya mengalihkan pandangan begitu Melan masuk."Ada apa?" tanya Melan dengan nada datar. Ia sedang malas basa-basi, apalagi ada Lila di sini.Sebelum Ardian sempat menjawab, Lila lebih dulu berdiri dan mendekat pada Mela. Tatapannya tampak tajam seperti sedang menahan kekesalan. "Apa maksudmu suruh Mas Ardian beli apartemen segala? Kamu gak lihat dia lagi sakit, Mel?!"Seketika kening Melan mengkerut. Kenapa jadi Lila yang marah? Padahal yang akan ia gunakan adal

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 23

    "Pasien hanya kelelahan. Cukup istirahat untuk beberapa hari, nanti akan pulih. Hanya saja tetap harus menjaga pola tidur dan jangan terlalu memikirkan hal berat setelah ini," ucap dokter yang baru selesai menangani Ardian.Melan mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah dokter tersebut keluar, matanya tertuju pada sang suami yang tengah tertidur karena efek dari obat.Huh, menyusahkan memang! Untung Ardian pingsan ketika di kantor, sehingga Melan bisa meminta bantuan dari staf yang ada di sana untuk mengangkat tubuh laki-laki itu. Jika tidak, maka ia pasti kesusahan sendiri.Melihat Ardian yang belum ada tanda-tanda akan bangun, gegas Melan berdiri. Malas sekali ia harus terus duduk menunggu laki-laki itu membuka matanya. Lebih baik ia pulang atau pergi ke tempat lain."Nyonya mau ke mana?" tanya Siska ketika melihat Melan keluar dari ruang rawat Ardian."Saya mau pulang. Tolong kamu tunggu Mas Ardian di sini, ya. Pekerjaanmu lagi senggang, kan?"Kalimat-kalimat itu begitu e

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 22

    "Karena percuma, Mel. Dokumen aslinya memang yang sekarang kamu pegang ini."Begitulah jawaban Ferdi ketika Melan mengajukan pertanyaan tadi. Jujur saja, sampai sekarang Melan masih merasa ada yang janggal. Namun, hanya akan membuang waktu saja jika terus dipikirkan. Lebih baik Melan segera ke ruangan Ardian.Ya, setelah merasa pertemuannya dengan Ferdi sudah cukup, Melan langsung bergegas ke kantor suaminya. Ia tidak ingin lagi menunda untuk mengeksekusi rencana yang sudah ada di kepala. Karena jika terus dibiarkan berlarut-larut, maka akan bahaya untuk dirinya.Bukan hanya soal Lila yang akan terus berusaha menyingkirkannya, tapi juga kedekatannya dengan Ardian. Melan akui, akhir-akhir ini sang suami memperlihatkan sikap yang berbeda, dan itu bisa menjadi penghalang niatnya untuk menggugat cerai. Maka, ia rasa pisah rumah adalah pilihan yang paling tepat."Selamat siang, Nyonya."Sapaan itu Melan dapatkan beberapa kali semenjak masuk ke gedung ini. Tentu semua staf di perusahaan ini

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 21

    "Mas Ardian udah berangkat, Bi?" tanya Melan ketika memasuki dapur.Bi Tin yang sedang merapikan meja makan pun terjingkat kaget mendegar suara muncul tiba-tiba. "Ya ampun ... Nyonya buat Bibi kaget aja." Wanita paruh baya itu sampai memegangi dadanya sendiri."Aduh, maaf, Bi. Aku kira Bi Tin tahu aku datang.""Gak apa-apa, Nyonya. Oh ya, Tuan udah berangkat pagi sekali. Katanya, sih, buru-buru sampai gak sempat sarapan.""Hem, pantes Bi Tin gak panggil aku buat sarapan," ucap Melan sembari duduk menghadap meja makan.Perempuan itu mengambil selembar roti yang kemudian diolesi selai kacang. Seperti inilah menu sarapannya setiap pagi. Saking banyaknya masalah hidup, Melan sampai bingung harus menikmati makanan seperti apa lagi selain roti selai itu. Beberapa kali Bi Tin sudah menawarkan menu baru, tapi ia tolak karena tak ada minat."Mas Ardian ada bilang gak, dia mau pulang jam berapa, Bi?"Lagi, gerakan tangan Bi Tin yang kini tengah mengelap vas bunga kembali terjeda karena pertany

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 20

    "Ngapain kamu di sini?"Tubuh Melan seketika membeku melihat Ardian kini sudah berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu datang di waktu yang sangat tidak tepat. Padahal, sedikit lagi ia pasti berhasil menemukan file perjanjian itu.Lebih dari itu, Melan sebenarnya lebih takut karena sekarang Ardian melihat dengan jelas ia sedang memangku laptop milik laki-laki itu.Tapi ... tunggu! Kenapa Ardian pulang malam ini?"Apa yang kamu cari?"Ardian semakin mendekat, membuat Melan segera menyingkirkan laptop dari atas pangkuannya. Ia berdiri sembari berdeham pelan. "Ga-gak ada," jawabnya."Buat apa buka laptopku?" tanya Ardian lagi."Uhm ... aku ... a-aku cari foto pernikahan kita. Kamu pasti simpan di laptop ini, kan?" Akhirnya Melan berhasil menemukan alasan. Semoga saja Ardian tidak curiga."Foto pernikahan?" ulang Ardian. keningnya terlipat ke dalam sembari terkekeh pelan. Apa Melan mengira ia sebodoh itu? Jelas alasan Ardian pulang karena sudah menduga ini akan terjadi. Meski sang sopir t

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status