“Kalau kalian masih mau hidup tenang, kalian harus pergi malam ini juga.”Suara Sam terdengar rendah dan penuh tekanan saat duduk di sudut ruangan VIP sebuah klub malam di pusat kota. Musik menghentak keras memenuhi udara, lampu remang-remang berwarna merah dan biru terus bergerak di sepanjang dinding kaca, sementara aroma alkohol bercampur asap rokok membuat suasana malam itu terasa semakin pengap.Namun di tengah keramaian klub tersebut—ketegangan di meja itu justru terasa jauh lebih mencekam.Dua pria yang duduk di depan Sam tampak gelisah sejak tadi. Salah satunya bertubuh besar dengan kepala plontos dan tato di leher, sedangkan satunya lagi lebih kurus dengan wajah penuh bekas luka lama di pelipisnya.Mereka adalah dua orang yang dibayar Vivian untuk menghabisi Frans malam itu.Dan sekarang—mereka justru menjadi ancaman terbesar bagi Vivian sendiri.“Apa maksud lo pergi?” tanya pria bertato dengan nada curiga. “Kerjaan udah selesai. Duit juga udah dibayar.”Sam menatapnya datar
Read more