ログインBab 50Akhir dari Sebuah Kehilangan"Sam ternyata bukan dalang utama pertukaran bayi dua puluh lima tahun lalu."Kalimat Victor membuat suasana yang semula hangat berubah membeku.Elena yang masih berdiri di samping Axel langsung menegang."Apa maksud Ayah?" tanyanya pelan.Victor menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya menyerahkannya kepada Axel.Pria itu membaca cepat isi pesan tersebut.Wajahnya perlahan berubah serius."Itu laporan terbaru dari penyidik," ujar Axel."Setelah Sam ditangkap, polisi kembali memeriksa arsip lama rumah sakit tempat Elena dan Vivian lahir."Nyonya Victor langsung memegang dadanya."Jangan bilang..."Victor mengangguk pelan."Ternyata ada orang lain yang terlibat."Suasana kembali hening.Elena menatap ayahnya dengan perasaan campur aduk.Baru kemarin ia mengetahui siapa keluarga kandungnya.Baru beberapa jam lalu ia merasakan bagaimana rasanya dipanggil "Nak" oleh seorang ayah.Dan sekarang muncul lagi fakta baru.Fakta yang mengancam mem
Bab 49Penyesalan yang Terlambat"Tapi kenapa...?"Suara Adrian terdengar serak.Tangannya gemetar saat memegang map tua berwarna cokelat itu.Victor mengernyit."Apa maksudmu?"Adrian tidak langsung menjawab.Wajahnya sudah pucat pasi.Matanya berkaca-kaca.Dengan tangan bergetar, ia membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang terlihat sudah lama disimpan."Itu... wasiat Papa."Victor menatapnya."Alex?"Adrian mengangguk.Pria itu menelan ludah dengan susah payah."Papa menulis ini sebelum meninggal."Tangannya semakin gemetar saat membaca isi surat itu.---Adrian...Jika suatu hari Papa tidak ada lagi, ingat satu hal.Jangan pernah menyakiti Elena.Jangan pernah meninggalkannya.Apalagi menceraikannya.Elena adalah perempuan baik.Dan yang lebih penting...Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah orang biasa.Percayalah pada Papa.Suatu hari kau akan mengerti mengapa Elena harus kau pertahankan.Jika kau kehilangan Elena, maka kau akan kehilangan sesuatu y
Bab 48Ayah yang Terlambat Datang"Kalau kamu benar-benar tidak tahu apa-apa..."Victor menatap lurus ke arah Vivian."Kenapa selama lima tahun terakhir kamu diam-diam mengirim miliaran rupiah kepada Sam?"DEG!Tubuh Vivian langsung menegang.Matanya membelalak."Pa..."Suaranya bergetar."Aku..."Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Vivian kehilangan kata-kata.Karena pertanyaan itu terlalu tepat.Terlalu menusuk.Dan yang lebih mengerikan...Victor sudah memiliki bukti.Axel langsung meletakkan beberapa lembar dokumen di atas tempat tidur."Bukti transfer.""Catatan rekening.""Dan rekaman CCTV saat orang kepercayaan Sam mengambil uang."Tubuh Vivian mulai gemetar.Adrian membelalakkan matanya.Nyonya Victor memejamkan mata sambil menangis.Sedangkan Victor hanya berdiri memandang Vivian.Tatapan itu tidak lagi seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya.Tatapan itu seperti seseorang yang baru sadar bahwa ia telah dikhianati selama bertahun-tahun."Katakan."Suara Vict
Bab 47Kebenaran yang Tidak Bisa Disembunyikan"Sejak kapan kamu tahu bahwa Sam adalah ayah kandungmu?"Kalimat itu menggantung di udara seperti palu yang menghantam keras kesadaran Vivian.Dalam sekejap, seluruh warna di wajah wanita itu menghilang.Matanya membulat.Napasnya tercekat.Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.Untuk beberapa detik, Vivian hanya menatap Victor tanpa berkedip.Seolah berharap pria itu sedang bercanda.Seolah berharap semua yang baru saja didengarnya hanyalah mimpi buruk akibat obat-obatan yang masih mengalir di tubuhnya.Namun tatapan Victor terlalu dingin untuk dianggap sebagai lelucon.Tatapan itu bahkan tidak menyisakan sedikit pun kasih sayang yang dulu selalu diberikan kepadanya.Tatapan itu hanya berisi kemarahan.Kekecewaan.Dan pengkhianatan."Apa...?"Suara Vivian terdengar bergetar."Apa maksud Papa?"Tidak ada jawaban.Victor tetap berdiri di tempatnya.Tatapannya tidak bergeser sedikit pun.Vivian mulai panik.Matanya berg
bab 46. "Kalau Elena adalah putriku... lalu selama ini siapa sebenarnya Vivian?"Suara Victor terdengar serak.Namun justru karena itulah suasana di koridor rumah sakit menjadi semakin mencekam.Tidak ada yang berani menjawab.Tidak ada yang berani memotong kalimatnya.Axel hanya berdiri diam sambil memperhatikan pria yang selama ini dikenal sangat tenang itu. Untuk pertama kalinya ia melihat ketenangan Victor benar-benar runtuh.Tangannya masih menggenggam hasil tes DNA dengan begitu erat hingga lembaran kertas itu terlihat kusut.Di sampingnya, Nyonya Victor sudah tidak mampu menahan air matanya lagi.Puluhan tahun.Puluhan tahun mereka hidup dalam kebohongan.Puluhan tahun mereka membesarkan anak yang ternyata bukan darah daging mereka sendiri.Dan yang lebih menyakitkan lagi, putri kandung mereka justru tumbuh jauh dari keluarga yang seharusnya melindunginya.Axel menarik napas panjang sebelum akhirnya menyerahkan satu map lain."Masih ada yang perlu Bapak lihat."Victor perlahan
Bab 45— Kebenaran yang Terkubur"Aku harus pergi..."Vivian bahkan tidak sadar kalimat itu keluar dari bibirnya.Tangannya masih menggenggam ponsel dengan begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Matanya terus menatap layar yang menampilkan pesan terakhir dari nomor misterius itu. Hanya satu kalimat singkat, tetapi dampaknya jauh lebih besar daripada ancaman apa pun yang pernah ia terima.Kalau aku jadi kamu, aku akan segera pergi sebelum polisi tahu alasan sebenarnya kamu datang ke sini.Selama beberapa detik Vivian hanya berdiri membeku di tengah koridor rumah sakit. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulitnya, tetapi tubuhnya justru dipenuhi keringat dingin. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu. Ia tidak tahu dari mana orang tersebut mengetahui keberadaannya. Namun satu hal yang sangat jelas baginya—orang itu sedang mengawasinya.Dan orang itu mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.Dengan langkah cepat Vivian berbalik meninggalkan
Bab 23 — Firasat yang Menjadi Nyata“Aku tidak sedang merencanakan apa pun.”Jawaban Vivian keluar tanpa jeda sedikit pun. Terlalu cepat. Terlalu siap. Dan justru karena itulah Sam tidak mempercayainya.Pria tua itu menatap putrinya dari balik kaca pembatas ruang kunjungan. Wajahnya terlihat jauh l
Bab 22 — Pengakuan yang Menyesakkan“Aku sudah bilang, saya melakukan semuanya sendiri.”Suara Sam terdengar serak setelah berjam-jam berada di ruang pemeriksaan.Di hadapannya, dua penyidik saling berpandangan.Mereka sudah mengulang pertanyaan yang sama berkali-kali.Namun jawaban Sam tidak perna
Bab 37 — Kebohongan yang Harus Diselamatkan“Tapi kenapa kamu narik rambutku? Untuk apa?”Pertanyaan Elena membuat suasana di restoran yang tadinya tenang berubah sedikit canggung.Axel yang sejak tadi menyembunyikan helai rambut itu di sela jemarinya langsung menatap Elena beberapa detik lebih lam
Bab 36 — Rahasia yang Mulai Terbuka“…mantan suami kamu masih suka gangguin kamu?”Kalimat Axel sukses membuat suasana di sekitar meja itu berubah canggung.Elena yang tadi berdiri sambil memegang buku catatan langsung menoleh cepat. Sedangkan Adrian perlahan mengangkat wajahnya dengan tatapan ding







