Lampu bertuliskan Operation Room menyala merah terang di atas pintu, menjadi satu-satunya tanda yang terus Aruna tatap sejak beberapa waktu lalu. Ia duduk di kursi ruang tunggu dengan punggung tegak, namun bahunya kaku, seolah seluruh tubuhnya menahan sesuatu yang terlalu berat untuk dijelaskan. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan, mengerat tanpa ia sadari, sementara pikirannya terus berputar pada satu kalimat yang diucapkan Dokter Herma sebelumnya.Radang usus buntu akut yang hampir pecah.Kalimat itu terus terngiang, berulang-ulang, seakan menolak pergi dari kepalanya. Dokter memang sudah menjelaskan bahwa operasi ini umum dilakukan, tingkat keberhasilannya tinggi, dan selama ditangani cepat, risikonya bisa ditekan. Tapi bagi Aruna, kata operasi tetap terasa seperti jurang yang dalam, menakutkan, dan tak bisa ia kendalikan.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri yang kini mulai dingin. Napasnya terasa pendek. Di sekelilingnya, suara langkah kaki, suara roda ranjang pasie
Read more