Beberapa hari terakhir terasa seperti berjalan di atas garis tipis yang tak terlihat. Aruna mencoba kembali ke rutinitasnya, bangun pagi, membaca naskah, menghadiri meeting, tertawa di depan kamera, semua dilakukan dengan rapi, nyaris tanpa cela. Dari luar, tak ada yang berubah. Ia tetap Aruna yang sama, yang profesional, yang ringan, yang selalu tahu bagaimana membawa dirinya di hadapan orang lain.Tapi di dalam kepalanya, semuanya berantakan.Ia sempat mencoba cara lamanya, menghindar. Mengatur jadwal agar tak bertemu Atlas, membatalkan beberapa agenda yang seharusnya mereka hadiri bersama, bahkan sampai menggunakan alasan yang terdengar konyol hanya untuk menjaga jarak. Namun bukannya mereda, bayangan itu justru semakin sering muncul. Semakin ia menjauh, semakin jelas ingatan itu kembali—cara Atlas menatapnya malam itu, jarak yang terlalu dekat, dan satu detik yang tidak seharusnya terjadi.Satu detik yang kini terasa terlalu panjang untuk dilupakan.Sampai akhirnya Aruna menyera
Read more