Aku menancapkan kakiku dan mengerahkan semua yang kumiliki ke dalam perisai, sihir membakar diriku seperti api yang membakar daun kering. Anak itu menjerit saat kekuatan membalas kekuatan, udara menjerit di bawah tekanan. Batu terbelah. Cahaya retak.Dan kemudian—Keheningan.Bukan ketiadaan. Tekanan.Tekanan itu menghantam ruangan seperti dinding, dominasi Alpha begitu kuat hingga membuatku sesak napas. Setiap insting di ruangan itu berteriak berlutut.Para penyerang membeku. Aku tahu beban itu.Aku terkulai di perisaiku sendiri, gemetar, jantungku berdebar kencang saat ikatan batinku dipenuhi olehnya—kemarahan, ketakutan, kepastian, arah.Mikail akan datang. Bukan nanti. Sekarang juga.Pemimpin itu menelan ludah. “Kita kehabisan waktu,” gumamnya.Aku berdiri tegak perlahan, darah menetes dari jari-jariku, sihir masih berderak di sekitar tubuhku.“Kalian kehabisan waktu sejak kalia
Ler mais