Aku menatap anakku. Pada naik turunnya dadanya yang lembut. Pada kekuatan yang terpendam di dalam dirinya, tenang namun luar biasa.“Sekarang,” kataku, “kamu bisa memutuskan apakah kamu akan terus bersembunyi di balik pilihan itu.”Ikatan itu mengencang, penuh harapan.“Dan kalau aku tidak?” tanya Mikail pelan.Aku menatap matanya, mantap dan tak tergoyahkan.“Maka konfrontasi berikutnya tidak akan setenang ini.”Keheningan yang mengikuti bukanlah keheningan kosong, tapi penuh makna.Dan Mikail, untuk pertama kalinya, tampak seperti pria yang tahu bahwa dia kehabisan alasan.* * *Mikail menghela napas seolah bersiap menerima pukulan.“Aku tidak melakukannya dengan mudah,” katanya. Suaranya tenang, hati-hati. Terlalu hati-hati. “Setiap keputusan yang kubuat saat itu—setiap jarak yang kutegakkan—adalah untuk mencegah kerajaan hancur beran
Ler mais