Panggilan itu dikirim sebelum fajar.Tidak dibisikkan. Tidak dinegosiasikan. Bergema melalui jaring ikatan seperti pisau yang diseret di atas batu. Formal, tak mungkin dihindari, tajam. Sebuah pertemuan darurat. Dewan Tinggi. Perwakilan Alpha. Semuanya. Sekarang.Aku merasakannya sebelum ada yang berbicara kepadaku.Mikail tidak menatapku ketika sinyal itu berbunyi. Dia sudah berdiri, sudah menarik beban yang dikenakannya seperti baju besi. Pilihan yang dia buat di akhir malam lalu masih berdengung di udara di antara kami. Belum selesai, mengnadung bahaya, tak dapat diubah.“Ini sedang terjadi,” kataku.“Ya,” jawabnya. Satu kata. Tanpa permintaan maaf di dalamnya. Tanpa jaminan juga.Aku mempererat pelukanku pada putraku. Dia hangat di dadaku, setenang detak jantung. Terlalu tenang, mungkin.Dia seharusnya gelisah. Penasaran. Takut. Sebaliknya, matanya jernih, gelap, waspada. Dia mendengarkan sesuatu yang
Ler mais