“Mereka akan kembali,” katanya.“Ya,” jawabku. “Mereka pasti akan kembali.”Diaa menatap garis-garis bangsal, kerusakan yang terjadi, dan para petarung yang terkulai di tempat mereka berdiri. Rahangnya menegang.“Ini tidak akan bertahan kalau mereka terus memberikan tekanan seperti itu.”“Aku tahu.”“Mereka sedang mempelajari kita.”“Aku tahu,” ulangku.Mata kami bertemu. Sesuatu yang tak terucapkan terjadi di antara kami. Pengakuan, bukan tuduhan. Ikatan itu bergetar pelan dan erat, tidak menarik, tidak mendorong. Menunggu.Di belakangku, anak itu duduk bersila di atas batu, menggambar garis di debu dengan satu jarinya. Bukan acak. Kurva dan sudut yang hampir persis mencerminkan geometri bangsal.Mikail juga melihatnya. Dia menjadi sangat diam.Aku mengikuti pandangannya, lalu menutup mataku selama setengah detik.“Me
Read more