Ruangan yang semula dipenuhi kehangatan karena pertemuan ayah dan anak itu, berubah sunyi dalam sekejap. Sampai kemudian .... “Ha ha ha,” tawa Kaisar meledak, sudut matanya basah. Kasim Zhou menyeringai kaku sekaligus gugup. Fokus Guli Haoran terus tertuju pada lukisannya; dia tak merasa berdosa telah bersikap lancang. Lalu, tawa Kaisar Han perlahan meredam. Saat bersamaan pula, dia menunjuk-nunjuk Guli Haoran sambil berkata, “Bocah tengil ini benar-benar mengingatkanku pada masa lalu!” Kasim Zhou secara naluriah mengingat kejadian bertahun-tahun lalu. Usia Han Xiao Se kala itu masih sembilan tahun. Sudah bisa bela diri tingkat menengah, pintar berkuda, memanah, bisa berburu tanpa pendampingan orang dewasa yang ahli, dan terakhir bisa menduduki tahta ayahnya tanpa takut dipenggal. Malahan saat itu berkata, “Satu-satunya putra Ayahanda yang layak berada di sini hanya aku!” Gaya bicaranya sombong, angkuh, tengil persis seperti Guli Haoran! Ayahnya—mendiang Kaisar
Baca selengkapnya