Jenderal besar He menengadah. Refleks—tanpa pikir panjang, dia langsung bangkit, mengabaikan pedang yang tadi masih diasahnya hingga tak terlalu menghiraukan kedatangan Guli Haoran. Sebagian besar langit-langit markas sudah dipenuhi asap pekat yang menggulung luas, menekan turun seperti awan hitam. Di bagian depan, kobaran api membumbung tinggi, bagai menjilat-jilat langit. Pada saat bersamaan. “Jenderal besar He!” Seorang prajurit berlari tergopoh-gopoh, napasnya kacau, “ada yang meledakkan bubuk mesiu di tempat pelatihan!” Alisnya sang jenderal mengernyit tajam. Namun, sebelum dia sempat memberi perintah, pandangannya sudah lebih dulu jatuh pada sosok kecil di dekatnya. Guli Haoran. Entah sejak kapan bocah itu sudah berdiri santai, memiringkan kepala sedikit, sambil menjilati permen berbentuk kelinci di tangannya. Jenderal besar He terdiam. Banyak pertanyaan muncul dalam benaknya—terlalu banyak—tapi tak satu pun keluar dari bibir. Tatapannya hanya menajam, dalam. Hingga p
Last Updated : 2026-04-27 Read more