Pagi perlahan menyapa melalui celah gorden kamar, menghadirkan garis-garis cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas ranjang. Hangatnya sinar matahari mengganggu tidur Nisa yang masih lelap. Gadis itu mengerjapkan mata pelan, lalu mengernyit saat tubuhnya merasakan pegal yang tak biasa. Setiap kali ia bergerak, rasa nyeri samar menjalar, terutama di bagian yang paling sensitif dari dirinya. Kenangan semalam pun kembali berputar dalam benaknya dengan begitu jelas, membuat pipinya seketika memanas. Untuk beberapa saat, Nisa hanya berbaring diam sambil menatap langit-langit kamar, mencoba menerima kenyataan bahwa hidupnya telah berubah dalam satu malam.Perlahan ia memalingkan wajah ke samping. Di sana, Dion masih tertidur dengan napas yang teratur dan wajah yang tampak jauh lebih tenang dibanding biasanya. Selimut hanya menutupi sebagian tubuh mereka, sementara pakaian yang mereka kenakan semalam masih berada di luar.Pemandangan itu seharusnya membuat Nisa merasa canggung, tetapi aneh
Read more