LOGINMia mengikuti kemana maminya Dirga pergi. Dan wanita itu melangkah menuju kolam berenang samping rumah."Tante.." panggil Mia membuat maminya Dirga terkejut.Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan menatap Mia tajam."Mau apa anda ke sini." Tanyanya geram.Mia belum mau menjawab. Ia menatap wanita itu dengan seksama.Ia menghela napas panjang."Pada dasarnya, tak ada seorangpun manusia yang ingin dilahirkan jika hanya untuk menjadi permainan dunia." Ucap Mia memulai."Aku tahu masa laluku tak membuat siapapun suka. Tapi itu bukan salahku. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku. Jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin lahir dari rahim mu, tante. Karena aku bisa melihat se sayang apa Tante sama Dirga."Suasana hening seketika. "Aku hanya seorang anak yang menjadi korban jahatnya orang tua. Aku juga nggak mau hidup seperti ini. Aku bahkan sudah beberapa kali bunuh diri namun tetap tak mati. Dari situ aku tahu kalau Tuhan memang ingin aku bertahan."Mia melangkah semakin
Setelah melamar Mia, Maminya Dirga mendengar kabar itu dan ia bertengkar hebat dengan Dirga.Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir yang penuh ketegangan itu. Selama satu bulan pula, Dirga tak pernah berhenti mendatangi mamanya. Lima kali pria itu datang dengan tujuan yang sama, meminta restu untuk menikahi Mia. Namun lima kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama; penolakan.Akan tetapi, Dirga bukan lagi pria yang mudah goyah oleh penolakan. Ia sudah terlalu lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini berbeda. Restu memang ia harapkan, tetapi bukan sesuatu yang akan menentukan langkahnya. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin memberitahukan kepada mamanya bahwa wanita yang dicintainya akan segera menjadi istrinya.Di sisi lain, segala sesuatu berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Rasya berdiri di belakangnya tanpa ragu. Bahkan pria itu ikut membantu mencari keberadaan ayah Mia yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi,
Dirga mengecup keningnya lama.Seakan ingin menyampaikan semua perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mia merasa begitu tenang.Bukan karena hidup mereka akan selalu mudah.Bukan karena tak akan ada masalah di masa depan.Melainkan karena ia tahu, mulai hari ini dan seterusnya, mereka akan menghadapinya bersama.*****Dirga menggenggam tangan Mia saat keduanya melangkah keluar dari kamar.Setelah 'mandi' dan berganti pakaian, mereka terlihat jauh lebih segar. Aroma sabun dan parfum masih melekat kuat di tubuh masing-masing. Rambut mereka yang masih sedikit basah menjadi bukti bahwa keduanya baru saja selesai membersihkan diri.Mia bahkan masih sibuk mengeringkan ujung rambutnya dengan jemari.Namun satu hal yang sama sekali terlupakan oleh mereka berdua...Rumah kaca tepi pantai itu tidak hanya dihuni mereka. Dirga dan Mia benar-benar lupa jika di rumaah itu ada kelima sahabat mereka.Begitu mereka keluar kamar menuju ruang tenga
Acara lamaran itu berlangsung khidmat. Bahkan papinya Dirga juga ikut larut dalam harunya acara tersebut. Ia menyelamati Mia sebagai calon menantunya. Walaupun saat itu tidak ada maminya Dirga, namun kehadiran papinya Dirga membuat Mia benar-benar bahagia.Setelah ini ia berjanji tak butuh apa-apa lagi. Ia hanya ingin ada Dirga di sisinya. Dan malam itu acara berlalu dengan meriahnya. Acara lamaran yang Mia sendiri tak menyangka akan berakhir seindah ini.Tak terlalu banyak tamu yang ada di rumah kaca tapi Pantai itu, namun ia benar-benar bahagia.Dan malam itu acara berlangsung dengan meriah dan penuh kebahagiaan. Semua sahabat Dirga memutuskan untuk menginap di rumah kaca itu. Sementara papinya Dirga pulang ke rumah.Dirga terbangun pagi-pagi buta. Ia melirik Mia yang tidur di pelukannya. Dengan lembut ia mengecup wajah Mia mulai dari kening, pipi dan berakhir pada bibir.Saat bagian bibir, Dirga melumatnya lembur. Mia yang terbangun bukannya marah, malah membalas ciuman tersebut. S
Tiga hari berada di luar kota untuk urusan pekerjaan membuat Dirga nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Namun begitu pesawat yang membawanya pulang mendarat, pria itu tidak menuju rumah utama seperti biasanya. Mobil yang dikendarainya justru melaju menuju rumah kaca tepi pantai miliknya. Tempat yang selama ini menyimpan begitu banyak kenangan bersama Mia. Tempat yang malam ini akan menjadi saksi untuk langkah terbesar dalam hidup mereka.Saat tiba di sana, suasana rumah kaca sudah jauh berbeda. Beberapa kendaraan milik wedding organizer terparkir rapi di halaman. Para pekerja hilir mudik membawa rangkaian bunga, lampu gantung, hingga berbagai dekorasi mewah yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sesuai permintaannya. Dari kejauhan, rumah kaca yang biasanya terlihat sederhana kini perlahan berubah menjadi tempat yang begitu indah dan romantis.Dirga berjalan menyusuri area depan yang langsung menghadap ke pantai. Tatapannya menelusuri setiap sudut dekorasi yang masih dalam p
Pagi itu suasana di villa tepi pantai milik Dirga terasa jauh lebih hidup dari biasanya. Angin laut yang berembus lembut membawa aroma asin yang menenangkan, sementara suara ombak menjadi latar alami bagi tawa dan obrolan mereka. Namun ada satu hal yang sejak kemarin tak luput dari perhatian semua orang—Dion dan Nisa. Keduanya seperti memiliki dunia sendiri. Ke mana pun Nisa pergi, pandangan Dion selalu mengikutinya. Begitu pula Nisa yang tanpa sadar akan mencari keberadaan Dion setiap beberapa menit sekali. Kedekatan mereka yang mendadak itu begitu mencolok hingga membuat orang-orang di sekitar mereka saling bertukar pandang penuh curiga.Alexa menjadi orang pertama yang menyerah. Awalnya pria itu masih berusaha mendekati Nisa seperti biasa, mengajak bicara atau sekadar duduk di dekat gadis itu. Namun setiap kali ia melakukannya, Dion selalu muncul entah dari mana. Bukan dengan sikap mengintimidasi, melainkan dengan cara yang jauh lebih menyebalkan—alami dan penuh perhatian. Menga







