Daffi tak menjawab. Jemarinya yang tadi menggenggam tangan Ainah perlahan melemah, lalu terlepas. Pandangannya kosong, seperti melihat masa lalu yang kembali menghantamnya tanpa ampun.Ainah mematung, antara bingung dan gelisah. Siapa Andini sebenarnya? Dan kenapa wajah Daffi tampak seolah ingin kabur dari tempat itu?Hazel masih tersenyum ramah, tampak tak menyadari ketegangan yang terjadi di antara mereka. Tapi dia tahu, istrinya kecewa karena yang dilihat bersama Daffi bukanlah Sisi, melainkan wanita lain.“Kamu sama siapa, A’? Sisi mana?” tanya Andini lagi, kali ini nadanya datar namun tajam.Daffi menoleh ke Ainah, lalu kembali menatap Andini. “Ini, Ainah,” jawabnya pelan.Seketika, mata Andini membelalak. “Siapa? Sisi mana?”Hazel pun tampak berusaha membantu, namun ekspresinya lebih tenang. “Sayang, kita kan ke sini buat liburan. Mungkin Dr Dafi sedang ada pekerjaan bersama dengan temannya ini. Ya kan, Dok?”“Ya,” jawab Daffi canggung.Ainah membungkukkan badan sedikit, sopan.
Magbasa pa