Ibnu tersenyum. “Iya, maafkan Abi. Abi memang salah, makanya ABi sekarang ditinggalkan oleh anak anak Abi karena menyakiti ibu ibu mereka. Abi harus bagaimana, Daffi? Abah sudah renta dan Abi pun sama. Lalu, siapa yang akan melanjutkan pesantren ini? Bahkan kamu dan Sisi sudah …. Abi, sedih mendengarnya dan Abi yakin, kamu pasti sangat mencintainya.”“Abi nggak usah ikut sedih dan bingung, menantu ABah banyak. Gak harus anak ‘kan buat melanjutkan pesantren ini? Lagian, Daffi sudah sering bilang, jangan suka memaksa orang yang tidak memiliki kemampuan memimpin sebuah agama. Nanti kalau salah, dosanya besar. Ikhlaskan saja pesantren ini dikelola para menantu ABah, cucu Abah atau cicitnya juga gak masalah. DIbikin santai aja. Biar Abi gak stres dan ujung ujungnya, mati duluan dari pada Abah.”Ibnu diam, dia sedang menyusun banyak kalimat agar bisa membuat Daffi mengerti keinginannya. Dia pun lama diam, membuat Daffi bingung dan akhirnya berdiri.“Besok kita
Leer más