Arsen menegakkan tubuhnya dari sandaran mobil, suaranya mulai terdengar lebih berat, menahan emosi yang sejak tadi ia tekan. “Kenapa pulang?” ulangnya, lebih pelan tapi tajam. “Dokter bilang kamu belum boleh pulang. Kamu memaksakan diri lagi, Vivian.” Di ujung telepon, terdengar helaan napas pelan. Tidak ada jawaban langsung, hanya keheningan yang terasa semakin menekan. Arsen memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan tatapan dingin yang kini bercampur kekhawatiran. “Aku tadi ke rumah sakit,” lanjutnya. “Tapi kamu sudah tidak ada. Kamu pikir ini permainan?” Suara Vivian akhirnya terdengar, sedikit bergetar. “Aku baik-baik saja…” “Tidak,” potong Arsen cepat, nadanya meninggi sedikit. Lalu ia langsung menahan diri, merendahkan suara lagi. “Kamu tidak baik-baik saja. Kamu belum seharusnya selesai perawatan, tapi kamu memaksa pulang sendiri.” Ia melirik rumah sederhana itu lagi, langkahnya perlahan mendekat ke pagar. “Buka pintunya,,” katanya tegas, kali ini tanp
Last Updated : 2026-05-25 Read more