"Jangan seperti ini, Vio. Kita pulang saja, ya," usul Ignis, buru-buru merangkul Violet dan membawanya terbang ke langit. Tapi Violet tidak mau diam saat memeluk Ignis. Ia menggigit leher Ignis pelan, lalu mengecupnya. Lagi dan lagi. Cup! Cup! Ignis terkejut. Sayapnya hampir kehilangan ritme. "Vio—" "Kenapa?" bisik Violet di telinganya. "Kamu tidak suka?" Ignis menahan napas, sambil menggigit bibir bawahnya. "Sial, kamu benar-benar nakal." Ignis tidak pernah bisa menolak Violet. Sebaliknya, ia balas mengecup bibir istrinya dengan brutal, penuh hasrat yang selama ini ia tahan. Bibir mereka saling melumat di tengah angin malam yang dingin, napas mereka menyatu di antara hembusan udara yang menerpa wajah. Violet tersenyum puas di sela ciuman. Tangannya yang nakal menyusur turun dari dada Ignis, melewati perut bidangnya yang keras, hingga sampai pada sesuatu yang sejak tadi menusuk pahanya. Violet melepas ciuman, lalu menatapnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk seringai keci
Read more