LOGIN“Kami sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan kehilangan personel lapangan,” ujarnya dingin. “Kapten Raka adalah—” “Kapten Raka adalah manusia!” potong Aluna, suaranya kini benar-benar meninggi. “Bukan mesin yang bisa dipakai terus tanpa peduli kondisinya!” Dokter buru-buru mengangkat tangan, mencoba meredam suasana. Kedua kubu ini sudah mulai menunjukkan emosinya. “Mohon tenang. Saya mengerti posisi kalian berdua. Tapi secara medis, saya tidak bisa memberikan izin pada Kapten Raka untuk kembali bertugas dalam waktu dekat.” Aluna menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya sebisa mungkin. Dadanya masih naik turun dengan cepat. Dan tatapannya masih menghunus pada Andi. “Kalau dipaksakan?” tanyanya pelan. “Apa tidak bisa pulih dalam jangka satu bulan? Ketahanan tubuhnya bagus. Fisiknya juga bagus. Dia bahkan jarang sekali sakit—” “Sakit—” ulangnya pelan, dengan suara yang mulai bergetar. Tatapannya mengeras saat menatap Andi. “Sakit dan dipukuli itu beda kasus, Ko
Sebelum pergi, Aluna kembali menatap pria yang kini sudah terlelap. Wajahnya masih tampak lelah, tapi setidaknya dia sudah tenang dan lebih stabil sekarang. Garis-garis di monitor juga sudah menunjukkan kalau dia sudah baik-baik saja. Wanita itu sedikit membungkuk. Dia berbisik tepat di telinga Raka. “Aku pergi sebentar. Dokter memintaku untuk ke ruangannya. Tunggu, ya.” Dia menegakkan kembali tubuhnya. Menatap Raka lebih lama. Ada gerakan samar di kening pria itu. Menandakan kalau dia merespon ucapan Aluna. Aluna menarik napas panjang. Memantapkan hatinya untuk melihat hasil rontgen yang sudah dia tunggu. Beruntunglah ruangan dokter tidak begitu jauh dengan kamar rawat Raka. Jadi dia tidak butuh waktu lama untuk datang ke sana. Setelah mengetuk pintu dan sudah menerima izin, Aluna segera masuk. Dia langsung bertemu tatap dengan dokter dan juga pria bertubuh jangkung yang tidak asing untuknya. Andi. Kolonel Andi ada di sana, entah sejak kapan. Pria itu menatap Aluna dari u
Aluna tidak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi dari cara mereka bergerak, dia tahu kalau Raka masih bisa bertahan. Dan itu sudah cukup. Dia mengangkat tangan Raka sedikit, menempelkannya ke pipinya. Hangatnya masih ada. Nyata. Tidak seperti ilusi yang baru saja hampir merenggut Sabrina dari dunia ini. Aluna memejamkan mata sesaat. Baru kemudian berbisik pelan. Sangat pelan, sampai hanya dia sendiri yang mendengarnya. “Aku belum selesai sama kamu,” gumamnya, nyaris tanpa suara. “Kita bahkan belum mulai apa-apa.” Dia menarik napas, menahan sesuatu yang nyaris runtuh di dalam dadanya. “Masih banyak yang harus kita beresin. Kita masih harus punya anak, jalan-jalan bareng ke taman. Iya, kan?” Aluna menggigit bibirnya. Dia tahu ini adalah harapan kosong. Tapi baginya, Raka bukan lagi sekadar bagian dari cerita. Dan perasaan ini terlalu nyata untuk dianggap ilusi. Perlahan, napas Raka mulai sedikit leb
Seolah belum sempat bernapas setelah kekacauan barusan, pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Suara langkah tergesa langsung memenuhi ruang yang sebelumnya dipenuhi kepanikan. Aluna masih membeku di tempatnya. Tangannya sedikit gemetar, matanya belum benar-benar lepas dari bayangan tubuh Sabrina yang perlahan memudar di hadapannya beberapa detik lalu. Itu nyata. Dia tidak berhalusinasi. Dan itu bisa terjadi lagi kapan saja. Tim medis yang baru saja tiba, langsung terkejut ketika melihat Sabrina yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Dia sudah kembali utuh, hanya keringat dan wajah pucat yang masih belum sepenuhnya hilang. “Bawa dia ke ruang pemeriksaan.” Itu adalah perintah sang dokter. Tatapannya kembali beralih pada Raka yang masih ada di pelukan Aluna. Pria itu masih sadar, tapi napasnya sudah tersengal. Belum lagi monitor jantung yang berbunyi semakin nyaring. “Maaf… kam
Suasana masih tegang. Raka berusaha mengingat apa kesalahannya. Tapi semakin dia memikirkan, semakin buntu jalan pikirannya. Di depannya, Sabrina masih ada di pelukan Aluna. Tubuhnya semakin hilang. Seperti kaset kusut yang terus dipaksa berputar. “Raka–” Aluna menggantung kalimatnya, ketika melihat Raka yang sudah pucat pasi dan keringat yang sudah membasahi wajahnya. “Jangan…” gumamnya lirih. Suaranya bergetar. “Aku mohon… jangan biarkan dia menghilang.” Aluna dan Raka memperhatikan sekeliling, tapi tetap tidak ada yang terjadi. Semuanya masih sama, termasuk kondisi Sabrina. Raka menatap semua itu tanpa berkedip. Kebingungan, lalu panik. Napasnya mulai tidak teratur. Tangannya bergetar saat mencengkram kepalanya. “Ini… ini nggak masuk akal,” gumamnya pelan. Tapi detik berikutnya, suaranya pecah. “Kenapa jadi seperti ini?!” Dia menunduk dengan bahu yang mulai bergetar. “Aku c
Sabrina mendengus kasar. Dia berdiri dengan perasaan kesalnya. “Apa kamu mencintainya?” tanya Sabrina. Namun belum sempat mendapat jawaban, dia kembali menimpali dengan pertanyaan lain, “bukankah pernikahan kalian ini hanya settingan? Kalian tidak saling mencintai. Setidaknya itu yang ku tahu dari caramu bicara di Iran, Kapten Raka.” Genggaman Raka perlahan melonggar. Senyumnya memudar, seolah ditarik paksa oleh sesuatu yang tidak terlihat. Tatapannya berubah dingin. Tapi bukan hanya karena marah, ada sesuatu yang lebih dalam. Seolah dia sedang menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. “Raka…” bisik Aluna. Raka mengangkat wajahnya, membuat mata mereka saling bertemu. “Aku boleh menatapnya?” tanya Raka pelan. Aluna mengangguk. Raka menarik napas panjang. Dia tidak ingin emosinya membuat sikapnya berubah kasar pada gadis itu. Setidaknya, Raka juga menghormati orang tua Sabrina yang merupakan mantan
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k
Pagi datang terlalu cepat bagi Aluna. Ketika ia membuka mata, cahaya matahari sudah menyusup melalui celah tirai kamar. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, membuat Aluna sedikit mengerjapkan mata. Beberapa detik ia hanya berbaring diam, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Tak
Tubuh Aluna terasa lebih ringan. Dia seperti sedang melayang di ruang yang tidak memiliki batas. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya ada kegelapan yang hampir menelan semuanya. Namun di tengah kegelapan itu, sebuah suara terdengar samar. Suara yang terus memanggil







