Mata Aisar bergetar. Dan untuk sepersekian detik, hanya sepersekian detik, sebelum emosi di wajahnya kembali berubah. Namun di detik selanjutnya, dia kembali tertawa. “Sayangnya, aku nggak butuh nasihat dari orang yang sebentar lagi akan mati.” Dia berdiri. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Dan satu lagi,” lanjutnya sambil melirik Raka. “Aku sudah menemukan cara untuk menang.” Raka tidak bergerak. Dia menatap Aisar dengan pandangan yang sudah buram. “Aku nggak perlu jadi tokoh utama,” kata Aisar. “Aku cuma perlu menghancurkan tokoh utamanya, dan keluar sebagai pemenangnya.” Sunyi kembali mencekik. Ucapan itu menggantung di udara seperti ancaman yang sudah pasti terjadi. Aisar menatap tubuh Raka yang hampir tak bergerak. “Permainan selesai,” katanya dingin. “Walaupun kamu tidak mati di tanganku, kamu akan tetap mati di tangan mereka semua.” Aisar menarik kembali rambu
閱讀更多