“Aku sudah tidak membutuhkannya.”Lampu di lorong penjara mendadak berkedip dengan cepat, lalu padam dalam sekejap. Sedangkan Raka, dia merasakan tubuhnya mulai ringan. Seperti ada cahaya asing yang menyorot tepat di wajahnya. Tidak ada suara Aisar, atau Arga yang ia dengar. Justru suara yang sangat berisik, seperti suara helikopter tepat di atas kepalanya. belum lagi angin kencang yang tiba-tiba datang. “Kapten! Bangun Kapten!” Suara itu sangat familiar. Perlahan, Raka membuka matanya. Yang awalnya berat, kini mulai terasa ringan. Siluet Dion mulai terlihat dengan jelas.“Dion, kamu datang,” gumam Raka nyaris tanpa suara. “Kapten Raka masih hidup!” teriak Dion. Tak lama, beberapa tentara dan datang mengangkat tubuh Raka yang sudah seperti kapas ke atas brankar. Raka membuka kembali matanya. Dia mengerjap pelan. “Dion,” bisiknya. Dia sedikit menarik ujung baju Dion. “Berhenti dulu!” seru Dion. Dia lantas membungkuk, mendekatkan telinganya ke wajah Raka. “Iya, Kapten?”“Kita dima
Read more