Raka benar-benar menunggu di bawah. Bahkan ketika Aluna selesai mandi dan turun dengan rambut yang masih setengah basah, pria itu sudah duduk santai di meja makan sambil membaca sesuatu di tablet hitam miliknya.Namun begitu mendengar suara langkah Aluna menuruni tangga, fokus Raka langsung buyar.Pria itu mendongak. Dan beberapa detik kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat.“Kenapa?” tanya Aluna heran ketika Raka terus menatapnya tanpa berkedip. “Ngeliatin aku udah kayak ngeliatin musuh gitu.”Raka tidak langsung menjawab. Dia menopang dagunya dengan satu tangan. Lalu tersenyum cukup lebar. “Kamu cantik,”gumamnya. “Sangat cantik.”Pipi Aluna langsung menghangat, dan kembali merona. Dia buru-buru menunduk dalam. “Baru mandi juga, ya pasti lah cantik,” balas Aluna berusaha untuk cuek. “Nggak usah berlebihan.”“Aku serius. Bahkan ketika kamu baru bangun tidur, kayak tadi,” goda Raka. “Rambut acak-acakan. Mata merah, muka kucel. Kamu tetep cantik.”Aluna buru-buru menarik kursi di
閱讀更多