Setelah kejadian percakapan dengan Arga tempo hari, Aluna seperti semakin kehilangan hidupnya. Antara kembali dan tetap tinggal, faktanya sama saja. Raka akan tetap lupa padanya. “Luna!” Wanita itu menoleh. Orang yang ia tunggu selama hampir satu jam akhirnya datang. “Sorry telat!” Sindi nyengir jahil sambil sekantong cemilan. “Udah jangan marah, ya. Kita jalan-jalan aja. Lupain masalah itu, dan happy!” Seru Sindi antusias. Aluna hanya mendelik. Masuk mobil tanpa berkata. Sebenarnya malas. Libur seperti ini, enaknya rebahan di rumah, tapi Sindi terus saja memintanya untuk ikut.Tepat ketika duduk di kursi kemudi, Aluna sedikit mendongak menatap langit. Ada yang aneh dari langit pagi ini. Tidak begitu cerah. Dan ada kumpulan awan hitam yang terus bergerak tidak jelas, layaknya kaset kusut. “Buruan! Sebelum aku berubah pikiran!” pekik Aluna. “Iya, iya… ayo—” kalimat Sindi menggantung, ketika melirik Aluna yang sudah terpaku di tempatnya. Ia mengikuti arah pandangan Aluna.“Di tem
Read more