Alvaro sudah mencari sejak sore, menyusuri setiap sudut tempat yang mungkin dilewati Rania. Halaman rumah, gang kecil di sekitar, hingga rumah tetangga satu per satu ia datangi. Namun anak itu tetap tak ditemukan.Semakin malam, langkahnya makin cepat. Napasnya mulai tak teratur, pikirannya dipenuhi kemungkinan buruk yang terus bermunculan.“Rania… kamu di mana…” gumamnya panik.Ia menoleh ke setiap arah, berharap melihat sosok kecil itu muncul tiba-tiba. Tapi jalanan mulai sepi, hanya lampu-lampu redup yang menyala. Alvaro mengepalkan tangan. Ia tak boleh terlambat. Ponselnya berdering, itu dari kakak laki-lakinya. “Halo Var… gimana udah ketemu belum, abang nyari di tempat biasa Rania main tapi gak ketemu,” Alvaro menyugar rambutnya kasar sambil menunduk menahan tangis. “Belum bang, maaf bang kalau Varo bikin susah abang dan mbak Ifa,” “Kamu ngomong apa sih Var, sudah lebih baik kita cari Rania kata Ifa dia pakek baju polkadot gambar beruang yang ibu beliin waktu itu,” Alvaro men
Last Updated : 2026-03-30 Read more