Di seberang telepon tertegun diam, seolah tidak menyangka aku akan menolaknya.Tak lama kemudian, suara Setyo yang penuh ketidaksabaran terdengar. Tak ada satu pun kata basa-basi yang menunjukkan kepedulian."Milla, aku tidak suka pacar yang suka merajuk.""Cepatlah bersiap."Seusai bicara, tanpa memberiku kesempatan membalas, telepon langsung dimatikan sepihak.Aku masih memegang ponsel itu, mendengarkan nada sibuk yang terus berdengung.Aku hanya merasa pemberontakanku barusan sangatlah konyol, seolah aku menganggap diriku terlalu penting.Setyo sama sekali tidak peduli aku mau atau tidak, lelah atau tidak.Yang ia butuhkan hanyalah sosok patuh, seperti bayangan Riska yang muncul tepat waktu di tempat yang dia inginkan.Setengah jam kemudian, terdengar ketukan pintu yang teratur dari luar.Asisten menyapa dengan nada sopan."Nona Milla, Tuan Setyo meminta saya menjemput Anda."Aku menjawab singkat, wajahku tidak menunjukkan ekspresi yang aneh.Namun begitu membuka lemari, aku melewat
Read more