Share

Bab 4

Author: Sahur
Setyo menatap mataku yang kosong dan hampa.

Jantungnya seolah diremas keras oleh sesuatu. Perasaan penyesalan yang asing dan tajam tiba-tiba bergolak dalam dirinya.

"Aku..."

Setyo pun secara refleks hendak menjelaskan.

Namun aku tidak memberinya kesempatan.

Aku mengangkat gelas bir yang hampir meluap dan berjalan ke arah Tuan Heru yang menatapku dengan mata penuh nafsu.

Tepat saat aku berdiri...

Tangan Setyo tiba-tiba mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Dengan tangan lainnya, dia langsung menjatuhkan gelas birku.

"Aku masih ada urusan. Permisi."

Seusai bicara, Setyo menyeret tanganku dan membawaku keluar dari ruang itu.

Baru setelah pintu mobil tertutup dengan suara keras, Setyo seperti baru tersadar dari mimpi dan melepaskan tanganku.

Di dalam mobil, suasana hening.

Pandangan Setyo menyapu pergelangan tanganku yang memerah karena genggamannya. Beberapa kali dia ingin berbicara, tetapi akhirnya hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Harga diri yang tinggi dan emosi asing saling bertarung di dalam dirinya.

Dia ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Dan lebih lagi, dia tidak bisa menurunkan harga dirinya.

Saat ini tiba-tiba aku merasa ingin tertawa.

Apa maksudnya ini?

Menyiksaku dulu, baru perlakukanku dengan baik?

Sayangnya, sudah terlambat.

Aku bukan lagi Milla yang dulu, yang akan jatuh cinta mati-matian padanya hanya karena sekali dia membelaku.

Aku yang pertama memecah keheningan yang menyesakkan itu.

"Sebenarnya aku mengerti, Tuan Setyo. Sejak awal aku sudah sadar akan posisiku. Seorang pengganti, bayangan, benda hiburan untuk mengisi waktu luang."

"Dulu Anda membelaku, tapi aku yang terlalu percaya diri dan salah mengartikan. Aku mengejar Anda tanpa henti. Selama tiga tahun ini, berkat ‘perhatian’ Anda, hidupku berkecukupan dan ibuku juga dirawat dengan baik. Aku sangat berterima kasih."

"Tapi Nona Riska sebentar lagi kembali, sebaiknya kita putus saja."

Setyo tidak menyangka, bahwa setelah dia menurunkan harga dirinya untuk menolongku keluar dari situasi tadi, aku malah dengan tidak tahu dirinya meminta putus.

"Apa sih yang kamu ributkan?!"

"Milla, haruskah kamu rendahkan dirimu, juga rendahkan hubungan kita..."

Aku memotong perkataannya dan tersenyum sinis, "Tuan Setyo, Anda tidak benar-benar mengira ada cinta di antara kita, 'kan? Sikap Anda terhadapku tidak seperti kepada seorang kekasih. Lebih seperti memelihara kucing atau anjing. Pernahkah Anda memberiku sedikit saja rasa hormat?"

"Aku juga cuma tidak mau jadi peliharaanmu lagi. Memangnya salah?"

Kata-kataku terlalu tajam, terlalu menyakitkan.

Setyo benar-benar terpancing marah. Tatapannya menjadi gelap dan menakutkan.

"Sudah 3 tahun, jadi selama ini kamu memandangku begitu?"

"Milla, aku kasih kamu kesempatan terakhir. Tarik kembali kata-katamu!"

"Kalau tidak, begitu keluar dari mobil ini, kita benar-benar putus!"

Aku menatap balik matanya yang penuh kemarahan, lalu tersenyum lembut.

"Tidak perlu."

"Semoga Anda dan Nona Riska bisa bersatu kembali."

Setyo begitu marah hingga hampir tertawa. Dia terus mengangguk.

"Oke! Oke! Kamu memang hebat!"

Dalam amarahnya, Setyo mengeluarkan buku cek, dengan cepat menuliskan sebuah angka, lalu melemparkan cek itu keras-keras ke tubuhku.

"Ambil uang ini! Pergi!" Setyo berteriak.

"Mulai sekarang jangan sampai aku melihatmu lagi!"

Aku diam-diam mengambil cek itu dan memasukkannya ke dalam saku.

Bahkan masih sempat mengucapkan perpisahan dengan lembut, setidaknya demi jumlah uang di cek itu.

"Terima kasih, Tuan Setyo. Sekarang kita sudah impas."

Seusai bicara, aku membuka pintu mobil dan berjalan keluar tanpa menoleh kembali.

Keesokan harinya, Setyo duduk di kantornya, jari-jarinya mengetuk meja dengan gelisah. Dia mengira tadi malam aku hanya sedang bertindak impulsif karena emosi. Paling lambat sore ini aku akan meneleponnya sambil menangis, mengakui kesalahan, dan memohon maaf.

Karena sebelumnya memang selalu begitu.

Namun hari ini, ponselnya sangat sunyi.

Entah sudah berapa lama berlalu, Setyo tidak sanggup menunggu lebih lama lagi.

Dia akhirnya menekan telepon internal dan memerintahkan asistennya, "Hubungi Milla. Katakan padanya, dalam 24 jam, pindahkan semua barangnya yang masih ada di vila."

Dia berpikir sejenak, lalu menambahkan perintah yang sangat menghina.

"Kamu sendiri yang pergi mengawasi. Jangan tinggalkan satu pun barang miliknya. Aku jijik melihatnya."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 10

    Setyo menarik napas panjang.Seakan baru saja membulatkan tekad, dia menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh."Tiga tahun ini, aku banyak merenung.""Dulu aku masih kekanak-kanakan dan tidak mengerti apa pun. Caraku memperlakukanmu sangat buruk, aku bahkan tidak menghargaimu. Aku juga tak pernah sabar mendengar penjelasanmu. Dalam hubungan itu... pada akhirnya akulah yang bersalah.""Dan soal ucapan yang pernah kulontarkan dulu... seharusnya aku meminta maaf padamu sejak lama. Maafkan aku."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa ada riak emosi di wajahku.Setelah Setyo berhenti bicara, aku hanya menggeleng pelan."Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, dulu aku mengejarmu juga bukan dengan niat yang benar-benar tulus.""Kalau sejak awal cinta sudah tercampur urusan transaksi, kita tidak bisa menuntut kejujuran dari siapa pun."Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang sedikit mengejek diriku sendiri."Jadi... anggap saja kita impas."Setyo menatap mataku yang datar. J

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 9

    Kepulanganku kali ini jelas bukan kebetulan, semua karena undangan dari Riska.“Lama tidak bertemu, Nona Milla. Selamat datang kembali!"Aku menyambut tangannya, menjabatnya dengan ringan sambil memasang senyum tenang yang tampak profesional."Bu Riska, terima kasih sampai repot-repot menjemput sendiri begini."Kami sempat bertukar basa-basi sekadarnya layaknya rekan bisnis.Begitu masuk ke mobil, Riska langsung mengeluarkan proposal dari tasnya dan menyodorkannya padaku.“Jujur, aku kaget waktu tahu desainer di balik Air Mata Bulan itu kamu. Kerja sama kita akan fokus pada koleksi itu, merancang seri perhiasan mewah yang senada. Ini bakal jadi proyek utama grup kami tahun depan.”"Untuk perwakilan mereknya, pilihannya jatuh pada aktor pendatang baru, Yandhi Chantra. Auranya pas dengan kesan dingin di desainmu."Aku mengangguk pelan sambil mulai membolak-balik lembaran proposal itu.Setelah diskusi singkat dan merasa semuanya sudah cocok, aku menutup map di tanganku.Aku pun menoleh ke

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 8

    "Setyo, aku sudah merencanakan segalanya dengan cermat, setidaknya aku tahu apa yang kuinginkan.""Kalau kamu? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Setelah melemparkan pertanyaan itu, Riska menyambar serbet dan mengusap bibirnya dengan gerakan tak sabar.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik untuk pergi."Tunggu!"Setyo mendadak berdiri. Suaranya terdengar parau dan pecah."Milla... kenapa dia harus pergi? Dia begitu mencintaiku, bahkan saat..."Langkah Riska terhenti. Ia menoleh dan menatap Setyo yang tampak seperti orang linglung.Riska hampir saja tertawa melihat pemandangan itu."Pantas saja orang bilang pria kaya itu biasanya naif soal cinta. Tuan Setyo, kamu benar-benar polos.""Cinta? Menurutmu apa artinya cinta bagi gadis yang hidupnya sudah hancur karena kenyataan, yang difitnah dan dihina orang?""Dengan kondisinya dulu, dimaki orang di belakang, dihina langsung di depan muka, bahkan dikucilkan teman-temannya, kalau dia mau bertahan hidup dan punya nasib lebih

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 7

    Namun belakangan ini, tingkah Setyo jelas makin aneh.Dia jadi sangat sering melamun.Saat sedang memeriksa dokumen, ujung penanya sering tertahan terlalu lama di satu halaman, meninggalkan noda tinta yang tebal. Dia juga mulai sering melirik ponselnya tanpa sadar.Entah sebenarnya dia sedang menunggu pesan dari siapa.Ketika ia membuka jendela percakapan denganku, selain satu pesan yang dulu pernah ia kirim:[Kamu ke luar negeri?]Tidak ada balasan lain di sana, hanya sebuah tanda seru merah yang mencolok.Aku sudah memblokirnya.Dia membuka aplikasi, lalu keluar. Membuka lagi, kemudian membalik ponselnya dengan layar menghadap ke bawah dan membantingnya ke meja.Hal itu ia lakukan berulang-ulang.Tok tok.Sampai asistennya mengetuk pintu dan berkata dengan nada hormat, "Tuan Setyo, Anda ada janji makan malam dengan Nona Riska. Waktunya hampir tiba."Setyo tersentak dari lamunannya, lalu dengan tak acuh mengambil mantel dan berjalan keluar.Di meja makan, Riska tampil dengan riasan se

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 6

    Satu langkah, dua langkah, tiga Langkah...Isak tangis yang dia bayangkan tidak terdengar.Di belakang Setyo juga tidak ada gerakan aneh apa pun.Langkahnya semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.Tetap tidak ada.Setyo ragu beberapa detik, lalu dengan hati-hati menoleh ke belakang.Bahkan bayanganku pun tidak terlihat.Apa yang terjadi?Secara refleks Setyo melangkah cepat dua langkah ke depan. Tatapannya yang tajam menyapu sekeliling bangku istirahat, sisi kiri dan kanan konter check-in, bahkan di balik pilar lorong.Namun tidak ada.Di mana pun tidak ada!"Milla?"Setyo berseru tanpa sadar, suaranya dipenuhi kegelisahan.Namun selain tatapan para penumpang di sekitarnya, tidak ada jawaban apa pun.Saat itulah asistennya berjalan cepat mendekat dan mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan Setyo, pesawat Nona Riska sudah mendarat. Sebentar lagi dia akan keluar."Setyo pun menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menekan perasaan kehilangan kendali yang tiba-tiba muncul di dalam hat

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 5

    Aku mendengarkan dengan tenang.Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.Wajah Setyo seketika berubah muram."Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status