Share

Bab 5

Author: Sahur
Aku mendengarkan dengan tenang.

Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.

Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.

Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.

Wajah Setyo seketika berubah muram.

"Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."

Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.

Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.

Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.

Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.

Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.

Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku ke luar negeri ternyata bertepatan dengan kembalinya Riska ke negara ini.

Bahkan di hari yang persis sama.

Setyo pergi ke bandara dengan sangat mencolok demi menjemputnya secara pribadi. Namun setibanya di terminal kedatangan, ia justru tampak gelisah.

Tanpa sadar matanya terus mencari-cari di tengah kerumunan orang.

Tiba-tiba pandangannya terpaku.

Dia melihatku!

Saat aku mencoba menghindari tatapan itu...

"Milla, berhenti!"

Setyo sudah berdiri di hadapanku. Wajahnya penuh ejekan dan rasa jemawa yang sudah sangat kukenali.

"Kenapa? Sampai membuntutiku ke bandara segala?"

"Sekarang akhirnya kamu menyesal? Baru sadar kalau tanpa aku, kamu tidak bisa hidup?"

Aku mengangkat tangan, memperlihatkan tiket pesawat di genggamanku dengan santai.

"Tuan Setyo, Anda salah paham. Aku tidak menyesal, dan aku datang bukan untuk mencarimu."

"Penerbanganku akan segera lepas landas. Aku akan pergi ke luar negeri."

Setyo tertegun sejenak, lalu mencibir keras, jelas sekali dia tidak percaya.

"Ke luar negeri?"

"Pindah rumah, ganti panti perawatan, apa drama tarik-ulurmu ini masih belum selesai?"

Tepat saat itu, pengumuman bandara berkumandang nyaring.

"Penerbangan UX189 dari Jirayu menuju Kota B telah mendarat."

Setyo menunjukkan senyum penuh kemenangan dan rasa bangga yang berlebihan. Dia pun menunjuk ke arah pintu kedatangan untuk pamer.

"Dengar itu?"

"Riska sudah kembali. Aku sengaja datang menjemputnya. Nanti kalau kami menikah, akan kukirimkan undangan untukmu."

Dia berhenti sebentar, nadanya dibuat penuh simpati palsu.

"Andai saja kamu tidak keras kepala minta putus. Posisi pacarku sekarang pasti masih milikmu."

"Sayang sekali … kamulah yang menghancurkan segalanya."

Setelah puas bicara, dia berbalik dengan rasa percaya diri yang tinggi dan melangkah pergi.

Dia yakin aku akan terpancing oleh ucapannya, lalu mengejarnya, seperti berkali-kali sebelumnya setiap aku membuatnya marah, dengan rendah hati memohon maaf.

Di kepalanya mungkin sudah terbayang seperti apa rupa penyesalanku nanti.

Wajah yang pucat dengan air mata yang mengucur deras.

Setyo sengaja memperlambat langkahnya, seolah ingin memberiku waktu untuk menyusulnya.

Pengumuman bandara kembali terdengar.

"Penerbangan SQ307 menuju Bitara kini mulai melakukan boarding..."

Aku menatap punggung Setyo yang berjalan menjauh untuk terakhir kalinya.

Tatapanku seolah kembali ke ingatan bertahun-tahun lalu, pada suatu sore yang kelabu, saat seorang gadis terjebak fitnah, dan seorang pemuda datang bak pahlawan yang mengusir mendung.

Pada saat itu, Setyo adalah seberkas cahaya bagiku.

Begitu terang hingga membuatku buta selama bertahun-tahun.

Sebenarnya yang sulit kulepaskan bukanlah Setyo, melainkan kenangan yang sudah terlalu kuindah-indahkan.

Aku hanya sulit merelakan diriku yang dulu, yang mengira akhirnya telah ditemukan dan diselamatkan.

Aku pun menarik kembali pandanganku, lalu berbalik. Tanpa keraguan sedikit pun, aku berjalan menuju gerbang keberangkatan yang arahnya berlawanan dengan pria itu.

'Setyo, aku tidak lagi butuh diselamatkan siapapun.'
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 10

    Setyo menarik napas panjang.Seakan baru saja membulatkan tekad, dia menatapku dengan sorot mata yang sungguh-sungguh."Tiga tahun ini, aku banyak merenung.""Dulu aku masih kekanak-kanakan dan tidak mengerti apa pun. Caraku memperlakukanmu sangat buruk, aku bahkan tidak menghargaimu. Aku juga tak pernah sabar mendengar penjelasanmu. Dalam hubungan itu... pada akhirnya akulah yang bersalah.""Dan soal ucapan yang pernah kulontarkan dulu... seharusnya aku meminta maaf padamu sejak lama. Maafkan aku."Aku mendengarkannya dengan tenang, tanpa ada riak emosi di wajahku.Setelah Setyo berhenti bicara, aku hanya menggeleng pelan."Tidak perlu minta maaf. Lagi pula, dulu aku mengejarmu juga bukan dengan niat yang benar-benar tulus.""Kalau sejak awal cinta sudah tercampur urusan transaksi, kita tidak bisa menuntut kejujuran dari siapa pun."Aku terdiam sejenak, lalu menyunggingkan senyum yang sedikit mengejek diriku sendiri."Jadi... anggap saja kita impas."Setyo menatap mataku yang datar. J

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 9

    Kepulanganku kali ini jelas bukan kebetulan, semua karena undangan dari Riska.“Lama tidak bertemu, Nona Milla. Selamat datang kembali!"Aku menyambut tangannya, menjabatnya dengan ringan sambil memasang senyum tenang yang tampak profesional."Bu Riska, terima kasih sampai repot-repot menjemput sendiri begini."Kami sempat bertukar basa-basi sekadarnya layaknya rekan bisnis.Begitu masuk ke mobil, Riska langsung mengeluarkan proposal dari tasnya dan menyodorkannya padaku.“Jujur, aku kaget waktu tahu desainer di balik Air Mata Bulan itu kamu. Kerja sama kita akan fokus pada koleksi itu, merancang seri perhiasan mewah yang senada. Ini bakal jadi proyek utama grup kami tahun depan.”"Untuk perwakilan mereknya, pilihannya jatuh pada aktor pendatang baru, Yandhi Chantra. Auranya pas dengan kesan dingin di desainmu."Aku mengangguk pelan sambil mulai membolak-balik lembaran proposal itu.Setelah diskusi singkat dan merasa semuanya sudah cocok, aku menutup map di tanganku.Aku pun menoleh ke

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 8

    "Setyo, aku sudah merencanakan segalanya dengan cermat, setidaknya aku tahu apa yang kuinginkan.""Kalau kamu? Kamu tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan?"Setelah melemparkan pertanyaan itu, Riska menyambar serbet dan mengusap bibirnya dengan gerakan tak sabar.Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik untuk pergi."Tunggu!"Setyo mendadak berdiri. Suaranya terdengar parau dan pecah."Milla... kenapa dia harus pergi? Dia begitu mencintaiku, bahkan saat..."Langkah Riska terhenti. Ia menoleh dan menatap Setyo yang tampak seperti orang linglung.Riska hampir saja tertawa melihat pemandangan itu."Pantas saja orang bilang pria kaya itu biasanya naif soal cinta. Tuan Setyo, kamu benar-benar polos.""Cinta? Menurutmu apa artinya cinta bagi gadis yang hidupnya sudah hancur karena kenyataan, yang difitnah dan dihina orang?""Dengan kondisinya dulu, dimaki orang di belakang, dihina langsung di depan muka, bahkan dikucilkan teman-temannya, kalau dia mau bertahan hidup dan punya nasib lebih

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 7

    Namun belakangan ini, tingkah Setyo jelas makin aneh.Dia jadi sangat sering melamun.Saat sedang memeriksa dokumen, ujung penanya sering tertahan terlalu lama di satu halaman, meninggalkan noda tinta yang tebal. Dia juga mulai sering melirik ponselnya tanpa sadar.Entah sebenarnya dia sedang menunggu pesan dari siapa.Ketika ia membuka jendela percakapan denganku, selain satu pesan yang dulu pernah ia kirim:[Kamu ke luar negeri?]Tidak ada balasan lain di sana, hanya sebuah tanda seru merah yang mencolok.Aku sudah memblokirnya.Dia membuka aplikasi, lalu keluar. Membuka lagi, kemudian membalik ponselnya dengan layar menghadap ke bawah dan membantingnya ke meja.Hal itu ia lakukan berulang-ulang.Tok tok.Sampai asistennya mengetuk pintu dan berkata dengan nada hormat, "Tuan Setyo, Anda ada janji makan malam dengan Nona Riska. Waktunya hampir tiba."Setyo tersentak dari lamunannya, lalu dengan tak acuh mengambil mantel dan berjalan keluar.Di meja makan, Riska tampil dengan riasan se

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 6

    Satu langkah, dua langkah, tiga Langkah...Isak tangis yang dia bayangkan tidak terdengar.Di belakang Setyo juga tidak ada gerakan aneh apa pun.Langkahnya semakin melambat, hingga akhirnya berhenti.Tetap tidak ada.Setyo ragu beberapa detik, lalu dengan hati-hati menoleh ke belakang.Bahkan bayanganku pun tidak terlihat.Apa yang terjadi?Secara refleks Setyo melangkah cepat dua langkah ke depan. Tatapannya yang tajam menyapu sekeliling bangku istirahat, sisi kiri dan kanan konter check-in, bahkan di balik pilar lorong.Namun tidak ada.Di mana pun tidak ada!"Milla?"Setyo berseru tanpa sadar, suaranya dipenuhi kegelisahan.Namun selain tatapan para penumpang di sekitarnya, tidak ada jawaban apa pun.Saat itulah asistennya berjalan cepat mendekat dan mengingatkan dengan suara pelan, "Tuan Setyo, pesawat Nona Riska sudah mendarat. Sebentar lagi dia akan keluar."Setyo pun menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menekan perasaan kehilangan kendali yang tiba-tiba muncul di dalam hat

  • Tanggal Kadaluarsa Cinta   Bab 5

    Aku mendengarkan dengan tenang.Jangankan berdebat, bahkan mengerutkan dahi pun aku tidak sudi.Dengan patuh aku menyeret koperku, melangkah keluar dari vila itu tanpa banyak bicara.Saat asisten melapor, dia bilang kalau aku pergi tanpa menoleh sedikit pun. Tak ada sisa rindu untuk tempat yang sudah kutempati lebih dari tiga tahun itu.Wajah Setyo seketika berubah muram."Beri Milla tekanan lewat pihak panti perawatan ibunya."Tak lama berselang, pihak panti meneleponku hanya untuk memberikan sebuah “peringatan”.Aku mendengarkannya dengan tenang, mengucap terima kasih, lalu memakai uang hasil kesepakatan itu untuk memindahkan perawatan ibuku.Seluruh proses itu kuselesaikan sendiri tanpa bantuan Setyo, bahkan tanpa satu pun keluhan yang keluar.Saat dia sedang menyusun rencana berikutnya untuk memaksaku menyerah, Riska tiba-tiba pulang lebih awal dari jadwal semula.Asistennya secara “tidak sengaja” membocorkan kabar kepulangan itu kepadaku.Kebetulan sekali, jadwal keberangkatanku k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status